Jumat, 25 Februari 2011

Budidaya itik atau bebek

Berikut ini adalah serba-serbi budidaya bebek / itik dimulai dengan sejarah singkat bebek / itik, sentra budidaya bebek / itik, jenis-jenis bebek / itik, manfaat bebek / itik, persyaratan lokasi budidaya bebek / itik, pedoman teknis budidaya bebek / itik, hama dan penyakit bebek / itik dan lain-lain.
1. SEJARAH SINGKAT
Itik dikenal juga dengan istilah Bebek (bhs.Jawa). Nenek moyangnya berasal dari Amerika Utara merupakan itik liar ( Anas moscha) atau Wild mallard. Terus menerus dijinakkan oleh manusia hingga jadilah itik yang diperlihara sekarang yang disebut Anas domesticus (ternak itik).
2. SENTRA PERIKANAN
Secara internasional ternak itik terpusat di negara-negara Amerika utara, Amerika Selatan, Asia, Filipina, Malaysia, Inggris, Perancis (negara yang mempunyai musim tropis dan subtropis). Sedangkan di Indonesia ternak itik terpusatkan di daerah pulau Jawa (Tegal, Brebes dan Mojosari), Kalimantan (Kecamatan Alabio, Kabupaten Amuntai) dan Bali serta Lombok.
3. JENIS
Klasifikasi (penggolongan) itik, menurut tipenya dikelompokkan dalam 3 (tiga) golongan, yaitu:
1. Itik petelur seperti Indian Runner, Khaki Campbell, Buff (Buff Orpington) dan CV 2000-INA;
2. Itik pedaging seperti Peking, Rouen, Aylesbury, Muscovy, Cayuga;
3. Itik ornamental (itik kesayangan/hobby) seperti East India, Call (Grey Call), Mandariun, Blue Swedish, Crested, Wood.
Jenis bibit unggul yang diternakkan, khususnya di Indonesia ialah jenis itik petelur seperti itik tegal, itik khaki campbell, itik alabio, itik mojosari, itik bali, itik CV 2000-INA dan itik-itik petelur unggul lainnya yang merupakan produk dari BPT (Balai Penelitian Ternak) Ciawi, Bogor.
4. MANFAAT
1. Untuk usaha ekonomi kerakyatan mandiri.
2. Untuk mendapatkan telur itik konsumsi, daging, dan juga pembibitan ternak itik.
3. Kotorannya bisa sebagai pupuk tanaman pangan/palawija.
4. Sebagai pengisi kegiatan dimasa pensiun.
5. Untuk mencerdaskan bangsa melalui penyediaan gizi masyarakat.
5. PERSYARATAN LOKASI
Mengenai lokasi kandang yang perlu diperhatikan adalah: letak lokasi lokasi jauh dari keramaian/pemukiman penduduk, mempunyai letak transportasi yang mudah dijangkau dari lokasi pemasaran dan kondisi lingkungan kandang mempunyai iklim yang kondusif bagi produksi ataupun produktivitas ternak. Itik serta kondisi lokasi tidak rawan penggusuran dalam beberapa periode produksi.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
Sebelum seorang peternak memulai usahanya, harus menyiapkan diri, terutama dalam hal pemahaman tentang pancausaha beternak yaitu (1). Perkandangan; (2). Bibit Unggul; (3). Pakan Ternak; (4). Tata Laksana dan (5). Pemasaran Hasil Ternak.
1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
1. Persyaratan temperatur kandang ± 39 ° C.
2. Kelembaban kandang berkisar antara 60-65%
3. Penerangan kandang diberikan untuk memudahkan pengaturan kandang agar tata kandang sesuai dengan fungsi bagian-bagian kandang
4. Model kandang ada 3 (tiga) jenis yaitu:
1. kandang untuk anak itik (DOD) oada masa stater bisa disebut juga kandang box, dengan ukuran 1 m 2 mampu menampung 50 ekor DOD
2. kandang Brower (untuk itik remaja) disebut model kandang Ren/kandang kelompok dengan ukuran 16-100 ekor perkelompok
3. kandang layar ( untuk itik masa bertelur) modelnya bisa berupa kandang baterei ( satu atau dua ekor dalam satu kotak) bisa juga berupa kandang lokasi ( kelompok) dengan ukuran setiap meter persegi 4-5 ekor itik dewasa ( masa bertelur atau untuk 30 ekor itik dewasa dengan ukuran kandang 3 x 2 meter).
5. Kondisi kandang dan perlengkapannya
Kondisi kandang tidak harus dari bahan yang mahal tetapi cukup sederhana asal tahan lama (kuat). Untuk perlengkapannya berupa tempat makan, tempat minum dan mungkin perelengkapan tambahan lain yang bermaksud positif dalam managemen
2. Pembibitan
Ternak itik yang dipelihara harus benar-benar merupakan ternak unggul yang telah diuji keunggulannya dalam memproduksi hasil ternak yang diharapkan.
1. Pemilihan bibit dan calon induk
Pemilihan bibit ada 3 ( tiga) cara untuk memperoleh bibit itik yang baik adalah sebagai berikut :
1. membeli telur tetas dari induk itik yang dijamin keunggulannya
2. memelihara induk itik yaitu pejantan + betina itik unggul untuk mendapatkan telur tetas kemudian meletakannya pada mentok, ayam atau mesin tetas
3. membeli DOD (Day Old Duck) dari pembibitan yang sudah dikenal mutunya maupun yang telah mendapat rekomendasi dari dinas peternakan setempat.Ciri DOD yang baik adalah tidak cacat (tidak sakit) dengan warna bulu kuning mengkilap.
2. Perawatan bibit dan calon induk
1. Perawatan Bibit
Bibit (DOD) yang baru saja tiba dari pembibitan, hendaknya ditangani secara teknis agar tidak salah rawat. Adapun penanganannya sebagai berikut: bibit diterima dan ditempatkan pada kandang brooder (indukan) yang telah dipersiapkan sebelumnya. Dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam brooder adalah temperatur brooder diusahakan yang anak itik tersebar secara merata, kapasitas kandang brooder (box) untuk 1 m² mampu menampung 50 ekor DOD, tempat pakan dan tempat minum sesuai dengan ketentuan yaitu jenis pakan itik fase stater dan
minumannya perlu ditambah vitamin/mineral.
2. Perawatan calon Induk
Calon induk itik ada dua macam yaitu induk untuk produksi telur konsumsi dan induk untuk produksi telur tetas. Perawatan keduanya sama saja, perbedaannya hanya pada induk untuk produksi telur tetas harus ada pejantan dengan perbandingan 1 jantan untuk 5 – 6 ekor betina.
3. Reproduksi dan Perkawinan
Reproduksi atau perkembangbiakan dimaksudkan untuk mendapatkan telur tetas yang fertil/terbuahi dengan baik oleh itik jantan. Sedangkan sistem perkawinan dikenal ada dua macam yaitu itik hand mating/pakan itik yang dibuat oleh manusia dan nature mating (perkawinan itik secara alami).
3. Pemeliharaan
1. Sanitasi dan Tindakan Preventif
Sanitasi kandang mutlak diperlukan dalam pemeliharaan itik dan tindakan preventif (pencegahan penyakit) perlu diperhatikan sejak dini untuk mewaspadai timbulnya penyakit.
2. Pengontrol Penyakit
Dilakukan setiap saat dan secara hati-hati serta menyeluruh. Cacat dan tangani secara serius bila ada tanda-tanda kurang sehat pada itik.
3. Pemberian Pakan
Pemberian pakan itik tersebut dalam tiga fase, yaitu fase stater (umur 0–8 minggu), fase grower (umur 8–18 minggu) dan fase layar (umur 18–27 minggu). Pakan ketiga fase tersebut berupa pakan jadi dari pabrik (secara praktisnya) dengan kode masing-masing fase. Cara memberi pakan tersebut terbagi dalam empat kelompok yaitu:
1. umur 0-16 hari diberikan pada tempat pakan datar (tray feeder)
2. umur 16-21 hari diberikan dengan tray feeder dan sebaran dilantai
3. umur 21 hari samapai 18 minggu disebar dilantai.
4. umur 18 minggu–72 minggu, ada dua cara yaitu 7 hari pertama secara pakan peralihan dengan memperhatikan permulaan produksi bertelur sampai produksi mencapai 5%. Setelah itu pemberian pakan itik secara ad libitum (terus menerus).
Dalam hal pakan itik secara ad libitum, untuk menghemat pakan biaya baik tempat ransum sendiri yang biasa diranum dari bahan-bahan seperti jagung, bekatul, tepung ikan, tepung tulang, bungkil feed suplemen.
Pemberian minuman itik, berdasarkan pada umur itik juga yaitu :
5. umur 0-7 hari, untuk 3 hari pertama iar minum ditambah vitamin dan mineral, tempatnya asam seperti untuk anak ayam.
6. umur 7-28 hari, tempat minum dipinggir kandang dan air minum diberikan secara ad libitum (terus menerus)
7. umur 28 hari-afkir, tempat minum berupa empat persegi panjang dengan ukuran 2 m x 15 cm dan tingginya 10 cm untuk 200-300 ekor. Tiap hari dibersihkan.
4. Pemeliharaan Kandang
Kandang hendaknya selalu dijaga kebersihannya dan daya gunanya agar produksi tidak terpengaruh dari kondisi kandang yang ada.
7. HAMA DAN PENYAKIT
Secara garis besar penyakit itik dikelompokkan dalam dua hal yaitu:
1. penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti virus, bakteri dan protozoa
2. penyakit yang disebabkan oleh defisiensi zat makanan dan tata laksana perkandangan yang kurang tepat
Adapun jenis penyakit yang biasa terjangkit pada itik adalah:
1. Penyakit Duck Cholera
Penyebab: bakteri Pasteurela avicida.
Gejala: mencret, lumpuh, tinja kuning kehijauan.
Pengendalian: sanitasi kandang,pengobatan dengan suntikan penisilin pada urat daging dada dengan dosis sesuai label obat.
2. Penyakit Salmonellosis
Penyebab: bakteri typhimurium.
Gejala: pernafasan sesak, mencret.
Pengendalian: sanitasi yang baik, pengobatan dengan furazolidone melalui pakan dengan konsentrasi 0,04% atau dengan sulfadimidin yang dicampur air minum, dosis disesuaikan dengan label obat.
8. PANEN
1. Hasil Utama
Hasil utama, usaha ternak itik petelur adalah telur itik
2. Hasil Tambahan
Hasil tambah berupa induk afkir, itik jantan sebagai ternak daging dan kotoran ternak sebagai pupuk tanam yang berharga
9. PASCAPANEN
Kegiatan pascapanen yang bias dilakukan adalah pengawetan. Dengan pengawetan maka nilai ekonomis telur itik akan lebih lama dibanding jika tidak dilakukan pengawetan. Telur yang tidak diberikan perlakuan pengawetan hanya dapat tahan selama 14 hari jika disimpan pada temperatur ruangan bahkan akan segera membusuk. Adapun perlakuan pengawetan terdiri dari 5 macam, yaitu:
1. Pengawetan dengan air hangat
Pengawetan dengan air hangat merupakan pengawetan telur itik yang paling sederhana. Dengan cara ini telur dapat bertahan selama 20 hari.
2. Pengawetan telur dengan daun jambu biji
Perendaman telur dengan daun jambu biji dapat mempertahankan mutu telur selama kurang lebih 1 bulan. Telur yang telah direndam akan berubah warna menjadi kecoklatan seperti telur pindang.
3. Pengawetan telur dengan minyak kelapa
Pengawetan ini merupakan pengawetan yang praktis. Dengan cara ini warna kulit telur dan rasanya tidak berubah.
4. Pengawetan telur dengan natrium silikat
Bahan pengawetan natrium silikat merupkan cairan kental, tidak berwarna, jernih, dan tidak berbau. Natirum silikat dapat menutupi pori kulit telur sehingga telur awet dan tahan lama hingga 1,5 bulan. Adapun caranya adalah dengan merendam telur dalam larutan natrium silikat10% selama satu bulan.
5. Pengawetan telur dengan garam dapur
Garam direndam dalam larutan garam dapur (NaCl) dengan konsentrasi 25-40% selama 3 minggu.
10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
1. Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya itik di Semarang tahun 1999 adalah sebagai berikut:.
1. Permodalan
1. Modal kerja
 Anak itik siap telur um 6 bl 36 paketx500 ek x Rp 6.000 ====== Rp 108.000.000,-
 Biaya kelancaran usaha dan lain-lain ==================== Rp 4.000.000,-
2. Modal Investasi
 Kebutuhan kandang 36 paket x Rp 500.000,- ============= Rp 18.000.000,-
Jumlah kebutuhan modal : Rp 130.000.000,-
Prasyaratan kredit yang dikehendaki:
 Bunga (menurun) 20% /tahun
 Masa tanggung angsuran 1 tahun
 Lama kredit 3 tahun
2. Biaya-biaya
1. Biaya kelancaran usaha dan lain-lain ======================= Rp 4.000.000,-
2. Biaya tetap
 Biaya pengambalian kredit:
 Biaya pengambalian angsuran dan bunga tahun I ============ Rp 14.723.000,-
 Biaya pengambalian angsuran dan bunga tahun II =========== Rp 86.125.000,-
 Biaya pengambalian angsuran dan bunga tahun III ========== Rp 73.125.000,-
 Biaya penyusutan kandang:
 biaya penyusutan kandang tahun I ================== Rp 3.600.000,-
 biaya penyusutan kandang tahun II ================== Rp 3.600.000,-
 biaya penyusutan kandang tahun III ================= Rp 3.600.000,-
3. Biaya tidak tetap
1. Biaya pembayaran ransum:
 biaya ransum tahun I ============================== Rp 245.700.000,-
 biaya ransum tahun II ============================== Rp 453.600.000,-
 biaya ransum tahun III ============================= Rp 453.600.000,-
2. Biaya pembayaran itik siap produksi:
 pembayaran tahun I =============================== Rp 108.000.000,-
 pembayaran tahun II -
 pembayaran tahun III -
3. Biaya pembayaran obat-obatan:
 biaya pembayaran obat-obatan tahun I ================== Rp 2.457.000,-
 biaya pembayaran obat-obatan tahun II ================= Rp 4.536.000,-
 biaya pembayaran obat-obatan tahun III ================= Rp 4.436.000,-
( Biaya obat-obatan adalah 1% dari biaya ransum)
4. Pendapatan
1. Penjualan telur tahun I ================================ Rp 384.749.920,-
2. Penjualan telur tahun II =============================== Rp 615.600.000,-
3. Penjualan telur tahun III =============================== Rp 615.600.000,-
4. Penjualan itik culling 2 x 1.425 x Rp 2.000,- ================= Rp 5.700.000,-
2. Gambaran Peluang Agribisnis
Telur dan daging itik merupakan komoditi ekspor yang dapat memberikan keuntungan besar. Kebutuhan akan telur dan daging pasar internasional sangat besar dan masih tidak seimbang dari persediaan yang ada. Hal ini dapat dilihat bahwa baru dua negara Thailand dan Malaysia yang menjadi negara pengekspor terbesar. Hingga saat ini budidaya itik masih merupakan komoditi yang menjanji untuk dikembangkan secara intensif.
11. DAFTAR PUSTAKA
1. Bambang Suharno, Ir. dan Khairul Amri. Beternak itik secara intensif. Penerbit Penebar Swadaya. Tahun 1998
2. Redaksi Trubus. Beternak Itik CV. 2000-INA. Penerbit Penebar Swadaya. Tahun 1999
3. Prawoto; Peternak ternak itik. Desa Sitemu Kec. Taman Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah 52361
12. KONTAK HUBUNGAN
1. Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829
2. Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8, Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952, Situs Web: http://www.ristek.go.id
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas

Budidaya burung walet

Berikut ini adalah serba-serbi budidaya burung walet dimulai dengan sejarah singkat burung walet, sentra budidaya burung walet, jenis-jenis burung walet, manfaat burung walet, persyaratan lokasi budidaya burung walet, pedoman teknis budidaya burung walet, hama dan penyakit burung walet dan lain-lain.
1. SEJARAH SINGKAT
Burung Walet merupakan burung pemakan serangga yang bersifat aerial dan suka meluncur. Burung ini berwarna gelap, terbangnya cepat dengan ukuran tubuh sedang/kecil, dan memiliki sayap berbentuk sabit yang sempit dan runcing, kakinya sangat kecil begitu juga paruhnya dan jenis burung ini tidak pernah hinggap di pohon. Burung walet mempunyai kebiasaan berdiam di gua-gua atau rumah-rumah yang cukup lembab, remang-remang sampai gelap dan menggunakan langit-langit untuk menempelkan sarang sebagai tempat beristirahat dan berbiak.
2. SENTRA PERIKANAN
Sentra Peternakan burung puyuh banyak terdapat di Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah
3. JENIS
Klasifikasi burung walet adalah sebagai berikut:
Superorder : Apomorphae
Order : Apodiformes
Family : Apodidae
Sub Family : Apodenae
Tribes : Collacaliini
Genera : Collacalia
Species : Collacaliafuciphaga
4. MANFAAT
Hasil dari peternakan walet ini adalah sarangnya yang terbuat dari air liurnya (saliva). Sarang walet ini selain mempunyai harga yang tinggi, juga dapat bermanfaat bagi duni kesehatan. Sarang walet berguna untuk menyembuhkan paru-paru, panas dalam, melancarkan peredaran darah dan penambah tenaga.
5. PERSYARATAN LOKASI
Persyaratan lingkungan lokasi kandang adalah:
1. Dataran rendah dengan ketinggian maksimum 1000 m dpl.
2. Daerah yang jauh dari jangkauan pengaruh kemajuan teknologi dan perkembangan masyarakat.
3. Daerah yang jauh dari gangguan burung-burung buas pemakan daging.
4. Persawahan, padang rumput, hutan-hutan terbuka, pantai, danau, sungai, rawa-rawa merupakan daerah yang paling tepat.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
1. Suhu, Kelembaban dan Penerangan
Gedung untuk kandang walet harus memiliki suhu, kelembaban dan penerangan yang mirip dengan gua-gua alami. Suhu gua alami berkisar antara 24-26 derajat C dan kelembaban ± 80-95 %. Pengaturan kondisi suhu dan kelembaban dilakukan dengan:
1. Melapisi plafon dengan sekam setebal 2° Cm
2. Membuat saluran-saluran air atau kolam dalam gedung.
3. Menggunakan ventilasi dari pipa bentuk “L” yang berjaraknya 5 m satu lubang, berdiameter 4 cm.
4. Menutup rapat pintu, jendela dan lubang yang tidak terpakai.
5. Pada lubang keluar masuk diberi penangkal sinar yang berbentuk corong dari goni atau kain berwarna hitam sehingga keadaan dalam gedung akan lebih gelap. Suasana gelap lebih disenangi walet.
2. Bentuk dan Konstruksi Gedung
Umumnya, rumah walet seperti bangunan gedung besar, luasnya bervariasi dari 10×15 m 2 sampai 10×20 m 2 . Makin tinggi wuwungan (bubungan) dan semakin besar jarak antara wuwungan dan plafon, makin baik rumah walet dan lebih disukai burung walet. Rumah tidak boleh tertutup oleh pepohonan tinggi. Tembok gedung dibuat dari dinding berplester sedangkan bagian luar dari campuran semen. Bagian dalam tembok sebaiknya dibuat dari campuran pasir, kapur dan semen dengan perbandingan 3:2:1 yang sangat baik untuk mengendalikan suhu dan kelembaban udara. Untuk mengurangi bau semen dapat disirami air setiap hari. Kerangka atap dan sekat tempat melekatnya sarang-sarang dibuat dari kayu-kayu yang kuat, tua dan tahan lama, awet, tidak mudah dimakan rengat. Atapnya terbuat dari genting. Gedung walet perlu dilengkapi dengan roving room sebagai tempat berputar-putar dan resting room sebagai tempat untuk beristirahat dan bersarang. Lubang tempat keluar masuk burung berukuran 20×20 atau 20×35 cm 2 dibuat di bagian atas. Jumlah lubang tergantung pada kebutuhan dan kondisi gedung. Letaknya lubang jangan menghadap ke timur dan dinding lubang dicat hitam.
2. Pembibitan
Umumnya para peternak burung walet melakukan dengan tidak sengaja. Banyaknya burung walet yang mengitari bangunan rumah dimanfaatkan oleh para peternak tersebut. Untuk memancing burung agar lebih banyak lagi, pemilik rumah menyiapkan tape recorder yang berisi rekaman suara burung Walet. Ada juga yang melakukan penumpukan jerami yang menghasilkan serangga-serangga kecil sebagai bahan makanan burung walet.
1. Pemilihan Bibit dan Calon Induk
Sebagai induk walet dipilih burung sriti yang diusahakan agar mau bersarang di dalam gedung baru. Cara untuk memancing burung sriti agar masuk dalam gedung baru tersebut dengan menggunakan kaset rekaman dari wuara walet atau sriti. Pemutaran ini dilakukan pada jam 16.00–18.00, yaitu waktu burung kembali mencari makan.
2. Perawatan Bibit dan Calon Induk
Di dalam usaha budidaya walet, perlu disiapkan telur walet untuk ditetaskan pada sarang burung sriti. Telur dapat diperoleh dari pemilik gedung walet yang sedang melakukan “panen cara buang telur”. Panen ini dilaksanakan setelah burung walet membuat sarang dan bertelur dua butir. Telur walet diambil dan dibuang kemudian sarangnya diambil. Telur yang dibuang dalam panen ini dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak populasi burung walet dengan menetaskannya di dalam sarang sriti.
1. Memilih Telur Walet
Telur yang dipanen terdiri dari 3 macam warna, yaitu :
 Merah muda, telur yang baru keluar dari kloaka induk berumur 0–5 hari.
 Putih kemerahan, berumur 6–10 hari.
 Putih pekat kehitaman, mendekati waktu menetas berumur 10–15 hari.
Telur walet berbentuk bulat panjang, ukuran 2,014×1,353 cm dengan berat 1,97 gram. Ciri telur yang baik harus kelihatan segar dan tidak boleh menginap kecuali dalam mesin tetas. Telur tetas yang baik mempunyai
kantung udara yang relatif kecil. Stabil dan tidak bergeser dari tempatnya. Letak kuning telur harus ada ditengah dan tidak bergerak-gerak, tidak ditemukan bintik darah. Penentuan kualitas telur di atas dilakukan dengan peneropongan.
2. Membawa Telur Walet
Telur yang didapat dari tempat yang jaraknya dekat dapat berupa telur yang masih muda atau setengah tua. Sedangkan telur dari jarak jauh, sebaiknya berupa telur yang sudah mendekati menetas. Telur disusun dalam spon yang berlubang dengan diameter 1 cm. Spon dimasukkan ke dalam keranjang plastik berlubang kemudian ditutup.
Guncangan kendaraan dan AC yang terlalu dingin dapat mengakibatkan telur mati. Telur muda memiliki angka kematian hampir 80% sedangkan telur tua lebih rendah.
3. Penetasan Telur Walet
1. Cara menetaskan telur walet pada sarang sriti.
Pada saat musim bertelur burung sriti tiba, telur sriti diganti dengan telur walet. Pengambilan telur harus dengan sendok plastik atau kertas tisue untuk menghindari kerusakan dan pencemaran telur yang dapat menyebabkan burung sriti tidak mau mengeraminya. Penggantian telur dilakukan pada siang hari saat burung sriti keluar gedung mencari makan. Selanjutnya telur-telur walet tersebut akan dierami oleh burung sriti dan setelah menetas akan diasuh sampai burung walet dapat terbang serta mencari makan.
2. Menetaskan telur walet pada mesin penetas
Suhu mesin penetas sekitar 40 ° C dengan kelembaban 70%. Untuk memperoleh kelembaban tersebut dilakukan dengan menempatkan piring atau cawan berisi air di bagian bawah rak telur. Diusahakan agar air didalam cawan tersebut tidak habis. Telur-telur dimasukan ke dalam rak telur secara merata atau mendata dan jangan tumpang tindih. Dua kali sehari posisi telur-telur dibalik dengan hati-hati untuk menghindari kerusakan embrio. Di hari ketiga dilakukan peneropongan telur. Telur-telur yang kosong dan yang embrionya mati dibuang. Embrio mati tandanya dapat terlihat pada bagian tengah telur terdapat lingkaran darah yang gelap. Sedangkan telur yang embrionya hidup akan terlihat seperti sarang laba-laba. Pembalikan telur dilakukan sampai hari ke-12. Selama penetasan mesin tidak boleh dibuka kecuali untuk keperluan pembalikan atau mengisi cawan pengatur kelembaban. Setelah 13–15
hari telur akan menetas.
3. Pemeliharaan
1. Perawatan Ternak
Anak burung walet yang baru menetas tidak berbulu dan sangat lemah. Anak walet yang belum mampu makan sendir perlu disuapi dengan telur semut (kroto segar) tiga kali sehari. Selama 2–3 hari anak walet ini masih memerlukan pemanasan yang stabil dan intensif sehingga tidak perlu dikeluarkan dari mesin tetas. Setelah itu, temperatur boleh diturunkan 1–2 derajat/hari dengan cara membuka lubang udara mesin. Setelah berumur ± 10 hari saat bulu-bulu sudah tumbuh anak walet dipindahkan ke dalam kotak khusus. Kotak ini dilengkapi dengan alat pemanas yang diletakan ditengah atau pojok kotak. Setelah berumur 43 hari, anak-anak walet yang sudah siap terbang dibawa ke gedung pada malam hari, kemudian dletakan dalam rak untuk pelepasan. Tinggi rak minimal 2 m dari lantai. Dengan ketinggian ini, anak waket akan dapat terbang pada keesokan harinya dan mengikuti cara terbang walet dewasa.
2. Sumber Pakan
Burung walet merupakan burung liar yang mencari makan sendiri. Makanannya adalah serangga-serangga kecil yang ada di daerah pesawahan, tanah terbuka, hutan dan pantai/perairan. Untuk mendapatkan sarang walet yang memuaskan, pengelola rumah walet harus menyediakan makanan tambahan terutama untuk musim kemarau. Beberapa cara untuk mengasilkan serangga adalah:
1. menanam tanaman dengan tumpang sari.
2. budidaya serangga yaitu kutu gaplek dan nyamuk.
3. membuat kolam dipekarangan rumah walet.
4. menumpuk buah-buah busuk di pekarangan rumah.
3. Pemeliharaan Kandang
Apabila gedung sudah lama dihuni oleh walet, kotoran yang menumpuk di lantai harus dibersihkan. Kotoran ini tidak dibuang tetapi dimasukan dalam karung dan disimpan di gedung.
7. HAMA DAN PENYAKIT
1. Tikus
Hama ini memakan telur, anak burung walet bahkan sarangnya. Tikus mendatangkan suara gaduh dan kotoran serta air kencingnya dapat menyebabkan suhu yang tidak nyaman.
Cara pencegahan tikus dengan menutup semua lubang, tidak menimbun barang bekas dan kayu-kayu yang akan digunakan untuk sarang tikus.
2. Semut
Semut api dan semut gatal memakan anak walet dan mengganggu burung walet yang sedang bertelur.
Cara pemberantasan dengan memberi umpan agar semut-semut yang ada di luar sarang mengerumuninya. Setelah itu semut disiram dengan air panas.
3. Kecoa
Binatang ini memakan sarang burung sehingga tubuhnya cacat, kecil dan tidak sempurna.
Cara pemberantasan dengan menyemprot insektisida, menjaga kebersihan dan membuang barang yang tidak diperlukan dibuang agar tidak menjadi tempat persembunyian.
4. Cicak dan Tokek
Binatang ini memakan telur dan sarang walet. Tokek dapat memakan anak burung walet. Kotorannya dapat mencemari raungan dan suhu yang ditimbulkan mengganggu ketenangan burung walet.
Cara pemberantasan dengan diusir, ditangkap sedangkan penanggulangan dengan membuat saluran air di sekitar pagar untuk penghalang, tembok bagian luar dibuat licin dan dicat dan lubang-lubang yang tidak digunakan ditutup.
8. PANEN
Sarang burung walet dapat diambil atau dipanen apabila keadaannya sudah memungkinkan untuk dipetik. Untuk melakukan pemetikan perlu cara dan ketentuan tertentu agar hasil yang diperoleh bisa memenuhi mutu sarang walet yang baik. Jika terjadi kesalahan dalam menanen akan berakibat fatal bagi gedung dan burung walet itu sendiri. Ada kemungkinan burung walet merasa tergangggu dan pindah tempat. Untuk mencegah kemungkinan tersebut, para pemilik gedung perlu mengetahui teknik atau pola dan waktu pemanenan. Pola panen sarang burung dapat dilakukan oleh pengelola gedung walet dengan beberapa cara, yaitu:
1. Panen rampasan
Cara ini dilaksanakan setelah sarang siap dipakai untuk bertelur, tetapi pasangan walet itu belum sempat bertelur. Cara ini mempunyai keuntungan yaitu jarak waktu panen cepat, kualitas sarang burung bagus dan total produksi sarang burung pertahun lebih banyak. Kelemahan cara ini tidak baik dalam pelestaraian burung walrt karena tidak ada peremajaan. Kondisinya lemah karena dipicu untuk terus menerus membuat sarang sehingga tidak ada waktu istirahat. Kualitas sarangnya pun merosot menjadi kecil dan tipis karena produksi air liur tidak mampu mengimbangi pemacuan waktu untuk membuat sarang dan bertelur.
2. Panen Buang Telur
Cara ini dilaksanankan setelah burung membuat sarang dan bertelur dua butir. Telur diambil dan dibuang kemudian sarangnya diambil. Pola ini mempunyai keuntungan yaitu dalam setahun dapat dilakukan panen hingga 4 kali dan mutu sarang yang dihasilkan pun baik karena sempurna dan tebal. Adapun kelemahannya yakni, tidak ada kesempatan bagi walet untuk menetaskan telurnya.
3. Panen Penetasan
Pada pola ini sarang dapat dipanen ketika anak-anak walet menetas dan sudah bisa terbang. Kelemahan pola ini, mutu sarang rendah karena sudah mulai rusak dan dicemari oleh kotorannya. Sedangkan keuntungannya adalah burung walet dapat berkembang biak dengan tenang dan aman sehingga polulasi burung dapat meningkat.
Adapun waktu panen adalah:
1. Panen 4 kali setahun
Panen ini dilakukan apabila walet sudah kerasan dengan rumah yang dihuni dan telah padat populasinya. Cara yang dipakai yaitu panen pertama dilakukan dengan pola panen rampasan. Sedangkan untuk panen selanjutnya dengan pola buang telur.
2. Panen 3 kali setahun
Frekuensi panen ini sangat baik untuk gedung walet yang sudah berjalan dan masih memerlukan penambahan populasi. Cara yang dipakai yaitu, panen tetasan untuk panen pertama dan selanjutnya dengan pola rampasan dan buang telur.
3. Panen 2 kali setahun
Cara panen ini dilakukan pada awal pengelolaan, karena tujuannya untuk memperbanyak populasi burung walet.
9. PASCAPANEN
Setelah hasil panen walet dikumpulkan dalu dilakukan pembersihan dan penyortiran dari hasil yang didapat. Hasil panen dibersihkan dari kotoran-kotoran yang menempel yang kemudian dilakukan pemisahan antara sarang walet yang bersih dengan yang kotor.
10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
1. Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya burung walet di daerah Jawa Barat tahun 1999:
1. Modal tetap
1. Gedung Rp. 13.000.000,-
2. Renovasi gedung Rp. 10.000.000,-
3. Perlengkapan Rp. 500.000,-
Jumlah modal tetap Rp. 23.500.000,-
Biaya penyusutan/bulan : Rp. 23.500.000,-:60 bln ( 5 th) Rp. 391.667,-
2. Modal Kerja
1. Biaya Pengadaan
 Telur Walet 500 butir @ Rp. 5.000,- Rp. 500.000,-
 Transportasi Rp. 100.000,-
 Makan Rp. 50.000,-
2. Biaya Kerja
 Pelihara kandang/bln@ Rp. 5000,- x 3 bln Rp. 15.000,-
 Panen Rp. 20.000,-
Jumlah biaya 1x produksi:Rp. 650.000,-+Rp. 35.000,- Rp. 685.000,-
3. Jumlah modal yang dibutuhkan pada awal Produksi
1. Modal tetap Rp. 13.500.000,-
2. Modal kerja 1x Produksi Rp. 685.000,-
Jumlah modal Rp. 14.185.000,-
4. Kapasitas produksi untuk 5 tahun 1 kali produksi :
1. sarang burung walet menghasilkan 1 kg
2. sarang burung sriti menghasilkan 15 kg
3. untuk 1 tahun, 4 kali produksi, menghasilkan :
 sarang burung walet 4 kg
 sarang burung sriti 60 kg
4. untuk 5 tahun, 20 kali produksi, menghasilkan :
 sarang burung walet 20 kg
 sarang burung sriti 300 kg
5. Biaya produksi
1. Biaya tetap per bulan : Rp. 23.500.000,-:60 bulan Rp. 391.667,-
2. Biaya tidak tetap Rp. 685.000,-
Total Biaya Produksi per bulan Rp. 1.076.667,-
Jumlah produksiRp.1.076.667:16 kg (walet dan sriti) Rp. 67.292,-
6. Penjualan
1. sarang burung walet 1 kg Rp. 17.000.000,-
2. sarang burung sriti 15 kg Rp. 3.000.000,-
Untuk 1 kali produksi Rp. 20.000.000,-Untuk 5 tahun
1. sarang burung walet 20 kg Rp. 340.000.000,-
2. sarang burung sriti 300 kg Rp. 60.000.000,-
Jumlah penjualan Rp. 400.000.000,-
Break Even Point
Pendapatan selama 5 Tahun Rp. 400.000.000,-
Biaya produksi selama 5 th Rp. 1.076.667 x 60 bln Rp. 64.600.000,-
Keuntungan selama 5 tahun Rp. 335.400.000,-
Keuntungan bersih per produksi 335.400.000 : 60 bln Rp. 5.590.000,-
.BEP 232.919
Tingkat Pengembalian Modal 3 bulan (1 x produksi)
Gambaran Peluang Agribisnis
Sarang burung walet merupakan komoditi ekspor yang bernilai tinggi. Kebutuhan akan sarang burung walet di pasar internasional sangat besar dan masih kekurangan persediaan. Hal ini disebabkan oleh masih kurang banyaknya budidaya burung walet. Selain itu juga produksi sarang walet yang telah ada merupakan produksi dari sarang-sarang alami. Budidaya sarang burung walet sangat menjanjikan bila dikelola dengan baik dan intensif.
11. DAFTAR PUSTAKA
1. Chantler, P. & G. Driessens. Swift : A guide to the Swift an Treeswift of the World. Pica Press, the Banks. East Sussex, 1995.
2. Mackinnon, John. Panduan Lapangan Pengenalan Burung-Burung di Jawa dan Bali. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1994.
3. Nazaruddin & A. Widodo. Sukses Merumahkan Walet. Cet. 2. Jakarta: Penebar Swadaya, 1998.
4. Tim Penulis PS. Budidaya dan Bisnis Sarang Walet. Cet. 4. Jakarta: Penebar Swadaya, 1994.
12. KONTAK HUBUNGAN
1. Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829
2. Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8, Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952, Situs Web: http://www.ristek.go.id
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas

Budidaya burung puyuh

Berikut ini adalah serba-serbi budidaya burung puyuh dimulai dengan sejarah singkat burung puyuh, sentra budidaya burung puyuh, jenis-jenis burung puyuh, manfaat burung puyuh, persyaratan lokasi budidaya burung puyuh, pedoman teknis budidaya burung puyuh, hama dan penyakit burung puyuh dan lain-lain.
1. SEJARAH SINGKAT
Puyuh merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang, ukuran tubuh relatif kecil, berkaki pendek dan dapat diadu. Burung puyuh disebut juga Gemak (Bhs. Jawa-Indonesia). Bahasa asingnya disebut “Quail”, merupakan bangsa burung (liar) yang pertama kali diternakan di Amerika Serikat, tahun 1870. Dan terus dikembangkan ke penjuru dunia. Sedangkan di Indonesia puyuh mulai dikenal, dan diternak semenjak akhir tahun 1979. Kini mulai bermunculan di kandang-kandang ternak yang ada di Indonesia.
2. SENTRA PERIKANAN
Sentra Peternakan burung puyuh banyak terdapat di Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah
3. JENIS
Kelas : Aves (Bangsa Burung)
Ordo : Galiformes
Sub Ordo : Phasianoidae
Famili : Phasianidae
Sub Famili : Phasianinae
Genus : Coturnix
Species : Coturnix-coturnix Japonica
4. MANFAAT
1. Telur dan dagingnya mempunyai nilai gizi dan rasa yang lezat
2. Bulunya sebagai bahan aneka kerajinan atau perabot rumah tangga lainnya
3. Kotorannya sebagai pupuk kandang ataupun kompos yang baik dapat digunakan sebagai pupuk tanaman
5. PERSYARATAN LOKASI
1. Lokasi jauh dari keramaian dan pemukiman penduduk
2. Lokasi mempunyai strategi transportasi, terutama jalur sapronak dan jalur-jalur pemasaran
3. Lokasi terpilih bebas dari wabah penyakit
4. Bukan merupakan daerah sering banjir
5. Merupakan daerah yang selalu mendapatkan sirkulasi udara yang baik.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
1. Perkandangan
Dalam sistem perkandangan yang perlu diperhatikan adalah temperatur kandang yang ideal atau normal berkisar 20-25 derajat C; kelembaban kandang berkisar 30-80%; penerangan kandang pada siang hari cukup 25-40 watt, sedangkan malam hari 40-60 watt (hal ini berlaku untuk cuaca mendung/musim hujan). Tata letak kandang sebaiknya diatur agar sinar matahari pagi dapat masuk kedalam kandang. Model kandang puyuh ada 2 (dua) macam yang biasa diterapkan yaitu sistem litter (lantai sekam) dan sistem sangkar (batere). Ukuran kandang untuk 1 m 2 dapat diisi 90-100 ekor anak puyuh, selanjuntnya menjadi 60 ekor untuk umur 10 hari sampai lepas masa anakan. Terakhir menjadi 40 ekor/m 2 sampai masa bertelur. Adapun kandang yang biasa digunakan dalam budidaya burung puyuh adalah:
1. Kandang untuk induk pembibitan
Kandang ini berpegaruh langsung terhadap produktifitas dan kemampuan mneghasilkan telur yang berkualitas. Besar atau ukuran kandang yang akan digunakan harus sesuai dengan jumlah puyuh yang akan dipelihara. Idealnya satu ekor puyuh dewasamembutuhkan luas kandang 200 m2.
2. Kandang untuk induk petelur
Kandang ini berfungsi sebagai kandang untuk induk pembibit. Kandang ini mempunyai bentuk, ukuran, dan keperluan peralatan yang sama. Kepadatan kandang lebih besar tetapi bisa juga sama.
3. Kandang untuk anak puyuh/umur stater(kandang indukan)
Kandang ini merupakan kandang bagi anak puyuh pada umur starter, yaitu mulai umur satu hari sampai dengan dua sampai tiga minggu. Kandang ini berfungsi untuk menjaga agar anak puyuh yang masih memerlukan pemanasan itu tetap terlindung dan mendapat panas yang sesuai dengan kebutuhan. Kandang ini perlu dilengkapi alat pemanas. Biasanya ukuran yang sering digunakan adalah lebar 100 cm, panjang 100 cm, tinggi 40 cm, dan tinggi kaki 50 cm. (cukup memuat 90-100 ekor anak puyuh).
4. Kandang untuk puyuh umur grower (3-6 minggu) dan layer (lebih dari 6 minggu)
Bentuk, ukuran maupun peralatannya sama dengan kandang untuk induk petelur. Alas kandang biasanya berupa kawat ram.
2. Peralatan
Perlengkapan kandang berupa tempat makan, tempat minum, tempat bertelur dan tempat obat-obatan.
2. Penyiapan Bibit
Yang perlu diperhatikan oleh peternak sebelum memulai usahanya, adalah memahami 3 (tiga) unsur produksi usaha perternakan yaitu bibit/pembibitan, pakan (ransum) dan pengelolaan usaha peternakan. Pemilihan bibit burung puyuh disesuaikan dengan tujuan pemeliharaan, ada 3 (tiga) macam tujuan pemeliharaan burung puyuh, yaitu:
1. a. Untuk produksi telur konsumsi, dipilih bibit puyuh jenis ketam betina yang sehat atau bebas dari kerier penyakit.
2. b. Untuk produksi daging puyuh, dipilih bibit puyuh jantan dan puyuh petelur afkiran.
3. c. Untuk pembibitan atau produksi telur tetas, dipilih bibit puyuh betina yang baik produksi telurnya dan puyuh jantan yang sehat yang siap membuahi puyuh betina agar dapat menjamin telur tetas yang baik.
3. 6.3. Pemeliharaan
1. 1) Sanitasi dan Tindakan Preventif
Untuk menjaga timbulnya penyakit pada pemeliharaan puyuh kebersihan lingkungan kandang dan vaksinasi terhadap puyuh perlu dilakukan sedini
mungkin.
2. 2) Pengontrolan Penyakit
Pengontrolan penyakit dilakukan setiap saat dan apabila ada tanda-tanda yang kurang sehat terhadap puyuh harus segera dilakukan pengobatan sesuai dengan petunjuk dokter hewan atau dinas peternakan setempat atau petunjuk dari Poultry Shoup.
3. 3) Pemberian Pakan
Ransum (pakan) yang dapat diberikan untuk puyuh terdiri dari beberapa bentuk, yaitu: bentuk pallet, remah-remah dan tepung. Karena puyuh yang suka usil memtuk temannya akan mempunyai kesibukan dengan mematuk-matuk pakannya. Pemberian ransum puyuh anakan diberikan 2 (dua) kali sehari pagi dan siang. Sedangkan puyuh remaja/dewasa diberikan ransum hanya satu kali sehari yaitu di pagi hari. Untuk pemberian minum pada anak puyuh pada bibitan terus-menerus.
4. 4) Pemberian Vaksinasi dan Obat
Pada umur 4-7 hari puyuh di vaksinasi dengan dosis separo dari dosis untuk ayam. Vaksin dapat diberikan melalui tetes mata (intra okuler) atau air minum (peroral). Pemberian obat segera dilakukan apabila puyuh terlihat gejala-gejala sakit dengan meminta bantuan petunjuk dari PPL setempat ataupun dari toko peternakan (Poultry Shoup), yang ada di dekat Anda beternak puyuh.
7. HAMA DAN PENYAKIT
1. Radang usus (Quail enteritis)
Penyebab: bakteri anerobik yang membentuk spora dan menyerang usus, sehingga timbul pearadangan pada usus.
Gejala: puyuh tampak lesu, mata tertutup, bulu kelihatan kusam, kotoran berair dan mengandung asam urat.
Pengendalian: memperbaiki tata laksana pemeliharaan, serta memisashkan burung puyuh yang sehat dari yang telah terinfeksi.
2. Tetelo (NCD/New Casstle Diseae)
Gejala: puyuh sulit bernafas, batuk-batuk, bersin, timbul bunyi ngorok, lesu, mata ngantuk, sayap terkulasi, kadang berdarah, tinja encer kehijauan yang
spesifik adanya gejala “tortikolis”yaitu kepala memutar-mutar tidak menentu dan lumpuh.
Pengendalian:
1. menjaga kebersihan lingkungan dan peralatan yang tercemar virus, binatang vektor penyakit tetelo, ayam yang mati segera dibakar/dibuang;
2. pisahkan ayam yang sakit, mencegah tamu masuk areal peternakan tanpa baju yang mensucihamakan/ steril serta melakukan vaksinasi NCD. Sampai sekarang belum ada obatnya.
3. Berak putih (Pullorum)
Penyebab: Kuman Salmonella pullorum dan merupakan penyakit menular.
Gejala: kotoran berwarna putih, nafsu makan hilang, sesak nafas, bulu-bulu mengerut dan sayap lemah menggantung.
Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit tetelo.
4. Berak darah (Coccidiosis)
Gejala: tinja berdarah dan mencret, nafsu makan kurang, sayap terkulasi, bulu kusam menggigil kedinginan.
Pengendalian:
1. menjaga kebersihan lingkungaan, menjaga litter tetap kering;
2. dengan Tetra Chloine Capsule diberikan melalui mulut; Noxal, Trisula Zuco tablet dilarutkan dalam air minum atau sulfaqui moxaline, amprolium, cxaldayocox
5. Cacar Unggas (Fowl Pox)
Penyebab: Poxvirus, menyerang bangsa unggas dari semua umur dan jenis kelamin.
Gejala: imbulnya keropeng-keropeng pada kulit yang tidak berbulu, seperti pial, kaki, mulut dan farink yang apabila dilepaskan akan mengeluarkan darah.
Pengendalian: vaksin dipteria dan mengisolasi kandang atau puyuh yang terinfksi.
6. Quail Bronchitis
Penyebab: Quail bronchitis virus (adenovirus) yang bersifat sangat menular.
Gejala: puyuh kelihatan lesu, bulu kusam, gemetar, sulit bernafas, batuk dan bersi, mata dan hidung kadang-kadang mengeluarkan lendir serta kadangkala kepala dan leher agak terpuntir.
Pengendalian: pemberian pakan yang bergizi dengan sanitasi yang memadai.
7. Aspergillosis
Penyebab: cendawan Aspergillus fumigatus.
Gejala: Puyuh mengalami gangguan pernafasan, mata terbentuk lapisan putih menyerupai keju, mengantuk, nafsu makan berkurang.
Pengendalian: memperbaiki sanitasi kandang dan lingkungan sekitarnya.
8. Cacingan
Penyebab: sanitasi yang buruk.
Gejala: puyuh tampak kurus, lesu dan lemah.
Pengendalian: menjaga kebersihan kandang dan pemberian pakan yang terjaga kebersihannya.
8. PANEN
1. Hasil Utama
Pada usaha pemeliharaan puyuh petelur, yang menjadi hasil utamanya adalah produksi telurnya yang dipanen setiap hari selama masa produksi berlangsung.
2. Hasil Tambahan
Sedangkan yang merupakan hasil tambahan antara lain berupa daging afkiran, tinja dan bulu puyuh.
9. PASCAPANEN …
10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
1. Analisis Usaha Budidaya
1. Investasi
1. kandang ukuran 9 x 0,6 x 1,9 m (1 jalur + tempat makan dan minum) Rp. 2.320.000,-
2. kandang besar Rp. 1.450.000,-
2. Biaya pemeliharaan (untuk umur 0-2 bulan)
1. ay Old Quail (DOQ) x Rp 798 (Harga DOQ) Rp. 1.596.000,-
2. Obat (Vitamin + Vaksin) Rp. 145.000,-
3. Pakan (selama 60 hari) Rp. 2.981.200,-
Jumlah biaya produksi Rp. 4.722.200,-
Keadaan puyuh:
 Jumlah anak 2000 ekor (jantan dan betina)
 Resiko mati 5%, sisa 1900
 Resiko kelamin 15% jantan, 85% betina (285 jantan, 1615 betina)
 Setelah 2 bulan harga puyuh bibit Rp 3.625,- betina dan Rp 725 jantan
 Penjualan puyuh bibit umur 2 bulan Rp. 4.408.000,-Minus Rp. -314.200,-
3. Biaya pemeliharaan (0-4 bulan)
 200 DOQ x Rp 798,- Rp. 159.600,-
 Obat (vitamin dan Vaksinasi) Rp. 290.000,-
 Pakan (sampai dengan umur 3 minggu) Rp. 2.459.925,-
Pakan (s/d minggu ke 4) betina 1615 ekor dan 71 ekor jantan (25% jantan layak bibit) Rp. 5.264.051,-
Jumlah biaya produksi Rp. 8.173.576,-
Keadaan puyuh:
 Mulai umur 1,5 bulan puyuh bertelur setiap hari rata-rata 85%, jumlah telur 1373 butir
 Hasil telur 75 hari x 1373 x Rp 75,- Rp. 7.723.125,-
 Puyuh betina bibit 1615 ekor @ Rp 3.625,- Rp. 5.854.375,-
 Puyuh jantan bibit 75 ekor @ Rp 798,- Rp. 59.850,-
 Puyuh jantan afkiran 214 ekor @ Rp 725,- Rp. 155.150,-
Keuntungan dari hasil penjualan Rp. 5.618.924,-
Biaya pemeliharaan (sampai umur 8 bulan)
0. Biaya untuk umur 4-8 bulan Rp. 1.625.137,-
Pendapatan
0. Hasil telur (0,5 bulan) 195 x 1373 x Rp 75,- Rp. 20.080.125,-
1. Hasil puyuh afkir 1615 ekor @ Rp 798,- Rp. 1.288.770,-
2. Hasil jantan afkir 71 ekor @ Rp 725,- Rp. 51.475,-
3. Hasil jantan afkir (2 bln) 214 ekor @ Rp 725,- Rp. 155.150,-
Keuntungan beternak puyuh petelur dan afkiran jual Rp. 10.950.113,-
Jadi peternak lebih banyak menjumlah keuntungan bila beternak puyuh petelur, baru kemudian puyuh afkirannya di jual daripada menjual puyuh bibit. Analisa usaha dihitung berdasarkan harga-harga yang berlaku pada tahun 1999.
Gambaran Peluang Agribisnis …
11. DAFTAR PUSTAKA
1. Beternak burung puyuh, 1981. Nugroho, Drh. Mayen 1 bk. Dosen umum Ternak Unggas Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, Universitas Udayana.
2. Puyuh, Tatalaksana Budidaya secara komersil, 1992. Elly Listyowati, Ir. Kinanti Rospitasari, Penebar Swadaya, Jakarta.
3. Memelihara burung puyuh, 1985. Muhammad Rasyaf, Ir. Penerbit Kanisius (Anggota KAPPI), Yogyakarta.
4. Beternak burung puyuh dan Pemeliharaan secara komersil, tahun 1985. Wahyuning Dyah Evitadewi dkk. Penerbit Aneka Ilmu Semarang
12. KONTAK HUBUNGAN
1. Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829
2. Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8, Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952, Situs Web: http://www.ristek.go.id
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas

Budidaya cacing tanah

Berikut ini adalah serba-serbi budidaya cacing tanah dimulai dengan sejarah singkat cacing tanah, sentra budidaya cacing tanah, jenis-jenis cacing tanah, manfaat cacing tanah, persyaratan lokasi budidaya cacing tanah, pedoman teknis budidaya cacing tanah, hama dan penyakit cacing tanah dan lain-lain.
1. SEJARAH SINGKAT
Cacing tanah termasuk hewan tingkat rendah karena tidak mempunyai tulang belakang (invertebrata). Cacing tanah termasuk kelas Oligochaeta. Famili terpenting dari kelas ini Megascilicidae dan Lumbricidae Cacing tanah bukanlah hewan yang asing bagi masyarakat kita, terutama bagi masyarakat pedesaan. Namun hewan ini mempunyai potensi yang sangat menakjubkan bagi kehidupan dan kesejahteraan manusia.
2. SENTRA PERIKANAN
Sentra peternakan cacing terbesar terdapat di Jawa Barat khususnya Bandung-Sumedang dan sekitarnya.
3. JENIS
Jenis-jenis yang paling banyak dikembangkan oleh manusia berasal dari famili Megascolicidae dan Lumbricidae dengan genus Lumbricus, Eiseinia, Pheretima, Perionyx, Diplocardi dan Lidrillus. Beberapa jenis cacing tanah yang kini banyak diternakan antara lain: Pheretima, Periony dan Lumbricus. Ketiga jenis cacing tanah ini menyukai bahan organik yang berasal dari pupuk kandang dan sisa-sisa tumbuhan. Cacing tanah jenis Lumbricus mempunyai bentuk tubuh pipih. Jumlah segmen yang dimiliki sekitar 90-195 dan klitelum yang terletak pada segmen 27-32. Biasanya jenis ini kalah bersaing dengan jenis yang lain sehingga tubuhnya lebih kecil. Tetapi bila diternakkan besar tubuhnya bisa menyamai atau melebihi jenis lain. Cacing tanah jenis Pheretima segmennya mencapai 95-150 segmen. Klitelumnya terletak pada segmen 14-16. Tubuhnya berbentuk gilik panjang dan silindris berwarna merah keunguan. Cacing tanah yang termasuk jenis Pheretima antara lain cacing merah, cacing koot dan cacing kalung. Cacing tanah jenis Perionyx berbentuk gilik berwarna ungu tua sampai merah kecokelatan dengan jumlah segmen 75-165 dan klitelumnya terletak pada segmen 13 dan 17. Cacing ini biasanya agak manja sehingga dalam pemeliharaannya diperlukan perhatian yang lebih serius. Cacing jenis Lumbricus Rubellus memiliki keunggulan lebih dibanding kedua jenis yang lain di atas, karena produktivitasnya tinggi (penambahan berat badan, produksi telur/anakan dan produksi bekas cacing “kascing”) serta tidak banyak bergerak
4. MANFAAT
Dalam bidang pertanian, cacing menghancurkan bahan organik sehingga memperbaiki aerasi dan struktur tanah. Akibatnya lahan menjadi subur dan penyerapan nutrisi oleh tanaman menjadi baik. Keberadaan cacing tanah akan meningkatkan populasi mikroba yang menguntungkan tanaman. Selain itu juga cacing tanah dapat digunakan sebagai:
1. Bahan Pakan Ternak
Berkat kandungan protein, lemak dan mineralnya yang tinggi, cacing tanah dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak seperti unggas, ikan, udang dan kodok.
2. Bahan Baku Obat dan bahan ramuan untuk penyembuhan penyakit.
Secara tradisional cacing tanah dipercaya dapat meredakan demam, menurunkan tekanan darah, menyembuhkan bronchitis, reumatik sendi, sakit gigi dan tipus.
3. Bahan Baku Kosmetik
Cacing dapat diolah untuk digunakan sebagai pelembab kulit dan bahan baku pembuatan lipstik.
4. Makanan Manusia
Cacing merupakan sumber protein yang berpotensi untuk dimasukkan sebagai bahan makanan manusia seperti halnya daging sapi atau Ayam.
5. PERSYARATAN LOKASI
1. Tanah sebagai media hidup cacing harus mengandung bahan organik dalam jumlah yang besar.
2. Bahan-bahan organik tanah dapat berasal dari serasah (daun yang gugur), kotoran ternak atau tanaman dan hewan yang mati. Cacing tanah menyukai bahan-bahan yang mudah membusuk karena lebih mudah dicerna oleh tubuhnya.
3. Untuk pertumbuhan yang baik, cacing tanah memerlukan tanah yang sedikit asam sampai netral atau ph sekitar 6-7,2. Dengan kondisi ini, bakteri dalam tubuh cacing tanah dapat bekerja optimal untuk mengadakan pembusukan atau fermentasi.
4. Kelembaban yang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan cacing tanah adalah antara 15-30 %.
5. Suhu yang diperlukan untuk pertumbuhan cacing tanah dan penetasan kokon adalah sekitar 15–25 derajat C atau suam-suam kuku. Suhu yang lebih tinggi dari 25 derajat C masih baik asal ada naungan yang cukup dan kelembaban optimal.
6. Lokasi pemeliharaan cacing tanah diusahakan agar mudah penanganan dan pengawasannya serta tidak terkena sinar matahari secara langsung, misalnya di bawah pohon rindang, di tepi rumah atau di ruangan khusus (permanen) yang atapnya terbuat dari bahan-bahan yang tidak meneruskan sinar dan tidak menyimpan panas.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
Pembuatan kandang sebaiknya menggunakan bahan-bahan yang murah dan mudah didapat seperti bambu, rumbia, papan bekas, ijuk dan genteng tanah liat. Salah satu contoh kandang permanen untuk peternakan skala besar adalah yang berukuran 1,5 x 18 m dengan tinggi 0,45 m. Didalamnya dibuat rak-rak bertingkat sebagai tempat wadah-wadah pemeliharaan. Bangunan kandang dapat pula tanpa dinding (bangunan terbuka). Model-model sistem budidaya, antara lain rak berbaki, kotak bertumpuk, pancing bertingkat atau pancing berjajar..
2. Pembibitan
Persiapan yang diperlukan dalam pembudidayaan cacing tanah adalah meramu media tumbuh, menyediakan bibit unggul, mempersiapkan kandang cacing dan kandang pelindung.
1. Pemilihan Bibit Calon Induk
Sebaiknya dalam beternak cacing tanah secara komersial digunakan bibit yang sudah ada karena diperlukan dalam jumlah yang besar. Namun bila akan dimulai dari skala kecil dapat pula dipakai bibit cacing tanah dari alam, yaitu dari tumpukan sampah yang membusuk atau dari tempat pembuangan kotoran hewan.
2. Pemeliharaan Bibit Calon Induk
Pemeliharaan dapat dibagi menjadi beberapa cara:
1. pemeliharaan cacing tanah sebanyak-banyaknya sesuai tempat yang digunakan. Cacing tanah dapat dipilih yang muda atau dewasa. Jika sarang berukuran tinggi sekitar 0,3 m, panjang 2,5 m dan lebar kurang lebih 1 m, dapat ditampung sekitar 10.000 ekor cacing tanah dewasa.
2. pemeliharaan dimulai dengan jumlah kecil. Jika jumlahnya telah bertambah, sebagian cacing tanah dipindahkan ke bak lain.
3. pemeliharaan kombinasi cara a dan b.
4. pemeliharaan khusus kokon sampai anak, setelah dewasa di pindah ke bak lain.
5. Pemeliharaan khusus cacing dewasa sebagai bibit.
3. Sistem Pemuliabiakan
Apabila media pemeliharaan telah siap dan bibit cacing tanah sudah ada, maka penanaman dapat segera dilaksanakan dalam wadah pemeliharaan. Bibit cacing tanah yang ada tidaklah sekaligus dimasukan ke dalam media, tetapi harus dicoba sedikit demi sedikit. Beberapa bibit cacing tanah diletakan di atas media, kemudian diamati apakah bibit cacing itu masuk ke dalam media atau tidak. Jika terlihat masuk, baru bibit cacing yang lain dimasukkan. Setiap 3 jam sekali diamati, mungkin ada yang berkeliaran di atas media atau ada yang meninggalkan media (wadah). Apabila dalam waktu 12 jam tidak ada yang meninggalkan wadah berarti cacing tanah itu betah dan media sudah cocok. Sebaliknya bila media tidak cocok, cacing akan berkeliaran di permukaan media. Untuk mengatasinya, media harus segera diganti dengan yang baru. Perbaikan dapat dilakukan dengan cara disiram dengan air, kemudian diperas hingga air perasannya terlihat berwarna bening (tidak berwarna hitam atau cokelat tua).
4. Reproduksi, Perkawinan
Cacing tanah termasuk hewan hermaprodit, yaitu memiliki alat kelamin jantan dan betina dalam satu tubuh. Namun demikian, untuk pembuahan, tidak dapat dilakukannya sendiri. Dari perkawinan sepasang cacing tanah, masing-masing akan dihasilkan satu kokon yang berisi telur-telur. Kokon berbentuk lonjong dan berukuran sekitar 1/3 besar kepala korek api. Kokon ini diletakkan di tempat yang lembab. Dalam waktu 14-21 hari kokon akan menetas. Setiap kokon akan menghasilkan 2-20 ekor, rata-rata 4 ekor. Diperkirakan 100 ekor cacing dapat menghasilkan 100.000 cacing dalam waktu 1 tahun. Cacing tanah mulai dewasa setelah berumur 2-3 bulan yang ditandai dengan adanya gelang (klitelum) pada tubuh bagian depan. Selama 7-10 hari setelah perkawinan cacing dewasa akan dihasilkan 1 kokon.
3. Pemeliharaan
1. Pemberian Pakan
Cacing tanah diberi pakan sekali dalam sehari semalam sebanyak berat cacing tanah yang ditanam. Apabila yang ditanam 1 Kg, maka pakan yang harus diberikan juga harus 1 Kg. Secara umum pakan cacing tanah adalah berupa semua kotoran hewan, kecuali kotoran yang hanya dipakai sebagai media. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian pakan pada cacing tanah, antara lain :
 pakan yang diberikan harus dijadikan bubuk atau bubur dengan cara diblender.
 bubur pakan ditaburkan rata di atas media, tetapi tidak menutupi seluruh permukaan media, sekitar 2-3 dari peti wadah tidak ditaburi pakan.
 pakan ditutup dengan plastik, karung , atau bahan lain yang tidak tembus cahaya.
 pemberian pakan berikutnya, apabila masih tersisa pakan terdahulu, harus diaduk dan jumlah pakan yang diberikan dikurangi.
 bubur pakan yang akan diberikan pada cacing tanah mempunyai perbandingan air 1:1.
Penggantian Media
Media yang sudah menjadi tanah/kascing atau yang telah banyak telur (kokon) harus diganti. Supaya cacing cepat berkembang, maka telur, anak dan induk dipisahkan dan ditumbuhkan pada media baru. Rata rata penggantian media dilakukan dalam jangka waktu 2 Minggu.
Proses Kelahiran
Bahan untuk media pembuatan sarang adalah: kotoran hewan, dedaunan/Buah-buahan, batang pisang, limbah rumah tangga, limbah pasar, kertas koran/kardus/kayu lapuk/bubur kayu. Bahan yang tersedia terlebih dahulu dipotong sepanjang 2,5 Cm. Berbagai bahan, kecuali kotoran ternak, diaduk dan ditambah air kemudian diaduk kembali. Bahan campuran dan kotaran ternak dijadikan satu dengan persentase perbandingan 70:30 ditambah air secukupnya supaya tetap basah.
7. HAMA DAN PENYAKIT
Keberhasilan beternak cacing tanah tidak terlepas dari pengendalian terhadap hama dan musuh cacing tanah. Beberapa hama dan musuh cacing tanah antara lain: semut, kumbang, burung, kelabang, lipan, lalat, tikus, katak, tupai, ayam, itik, ular, angsa, lintah, kutu dan lain-lain. Musuh yang juga ditakuti adalah semut merah yang memakan pakan cacing tanah yang mengandung karbohidrat dan lemak. Padahal kedua zat ini diperlukan untuk penggemukan cacing tanah. Pencegahan serangan semut merah dilakukan dengan cara disekitar wadah pemeliharaan (dirambang) diberi air cukup.
8. PANEN
Dalam beternak cacing tanah ada dua hasil terpenting (utama) yang dapat diharapkan, yaitu biomas (cacing tanah itu sendiri) dan kascing (bekas cacing). Panen cacing dapat dilakukan dengan berbagai cara salah satunya adalah dengan mengunakan alat penerangan seperti lampu petromaks, lampu neon atau bohlam. Cacing tanah sangat sensitif terhadap cahaya sehingga mereka akan berkumpul di bagian atas media. Kemudian kita tinggal memisahkan cacing tanah itu dengan medianya. Ada cara panen yang lebih ekonomis dengan membalikan sarang. Dibalik sarang yang gelap ini cacing biasanya berkumpul dan cacing mudah terkumpul, kemudian sarang dibalik kembali dan pisahkan cacing yang tertinggal. Jika pada saat panen sudah terlihat adanya kokon (kumpulan telur), maka sarang dikembalikan pada wadah semula dan diberi pakan hingga sekitar 30 hari. Dalam jangka waktu itu, telur akan menetas. Dan cacing tanah dapat diambil untuk dipindahkan ke wadah pemeliharaan yang baru dan kascingnya siap di panen.
9. PASCAPANEN : ….
10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
1. Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya cacing tanah di Bandung (Jawa Barat) pada ahun 1999 adalah sebagai berikut:
1. Modal tetap
1. Sewa tanah seluas 200 m 2 /tahun ————————————————-Rp. 120.000,-
2. Kandang pelindung:bahan bambu & atap rumbia ———————————–Rp. 150.000,-
3. Kandang ternak uk 1,5X18 m 2 , Tg 50 Cm :11 bh ——————————–Rp. 600.000,-
4. Media :
 Bahan media 6 Ton, @ Rp. 100,00 ——————————————-Rp. 600.000,-
 Plastik 200 m, @ Rp. 1600,00/m ———————————————Rp. 320.000,-
 Pelepah Pisang —————————————————————-Rp. 25.000,-
Jumlah ————————————————————————Rp. 1.815.000,-
2. Biaya Penyusutan
1. Tanah ——————————————————————————Rp. 40.000,-
2. Kandang Pelindung —————————————————————-Rp. 16.667,-
3. Kandang Ternak ——————————————————————-Rp. 66.667,-
4. Media
 Bahan Media ——————————————————————Rp. 300.000,-
 Plastik ————————————————————————-Rp. 160.000,-
 Pelepah Pisang —————————————————————–Rp. 6.250,-
Jumlah ————————————————————————-Rp. 589.584,-
3. Modal Kerja
1. Bibit sebanyak 40 Kg, @ Rp. 200.000,00/Kg ————————————–Rp. 8.000.000,-
2. Pakan dalam bentuk limbah sayur(petsai, Mentimun) 5 Ton @Rp. 500,- ————Rp. 2.500.000,-
3. Tenaga Kerja 4 orang @ Rp. 100.000,-/bulan ————————————–Rp. 400.000,-
Jumlah ——————————————————————————Rp. 10.900.000,-
4. Jumlah modal yang dibutuhkan :
1. Modal tetap ————————————————————————Rp. 1.815.000,-
2. Modal kerja ————————————————————————Rp. 10.900.000,-
Jumlah ——————————————————————————Rp. 12.715.000,-
5. Produksi/4 bulan
Selama 4 bulan 1600 Kg, @ Rp.210.000,-/Kg ——————————————-Rp. 336.000.000,-
6. Biaya produksi/4 bulan
1. Biaya penyusutan ——————————————————————–Rp. 589.584,-
2. Modal kerja ————————————————————————-Rp. 10.900.000,-
Jumlah ——————————————————————————-Rp. 11.489.584,-
7. Keuntungan/4 bulan
1. Produksi/4 bulan ———————————————————————Rp. 336.000.000,-
2. Biaya produksi/4 bulan —————————————————————Rp. 1.489.584,-
Jumlah ——————————————————————————-Rp. 324.510.416,-
8. Break Even Point
1. Keuntungan/4 bulan ——————————————————————-Rp. 324.510.416,-
2. Biaya Produksi/4 bulan —————————————————————-Rp. 11.489.584,-
Jumlah ——————————————————————————-Rp. 313.020.822,-
Keuntungan selama 4 bulan ———————————————————-Rp. 313.020.822,-
Untung bersih Produksi Rp. 313.020.822,-/120 hr ———————————–Rp. 2.608.506,-
BEP = Biaya Tetap [ 1 - (Biaya Penyusutan : Keuntungan)]
= Rp. 1.815.000,00 [ 1 - (Rp. 589.584 : Rp. 324.510.416,-)]
= Rp. 1.815.000,00 [ 1- 0.0018 ]
= Rp. 1.815.000,00 X 0.9982
= Rp. 1.811.733,00
Artinya tingkat hasil penjualan sebesar Rp. 1.811.733,00/4 bulan
9. Tingkat Pengembalian Modal
Modal Kembali =[Jumlah Modal Yang Diperlukan/(keuntungan + penyusutan)] * 1bulan = 1,733 bulan atau 2 bulan dalam 1 kali Produksi. Jadi tempo yang diperlukan untuk menutupi kembali Investasi adalah dalam 1 kali panen atau 2 bulan.
2. Gambaran Peluang Agribisnis
Cacing tanah merupakan komoditi ekspor yang belakangan ini mendapat respon yang besar dari para petani ataupun pengusaha. Hal ini disebabkan karena besarnya permintaan pasar internasional dan masih kurangnya produksi cacing tanah. Budidaya cacing tanah dapat memberikan hasil yang besar dengan penanganan yang baik.
11. DAFTAR PUSTAKA
1. Asep, Wawancara dengan Peternak Cacing Tanah ( Bandung : Jum’ at, 2 Juli 1999).
2. Budiarti, Asiani, Palungkun, Roni, Cacing Tanah (Jakarta : Penebar Swadaya, 1992).
3. Endang, Wawancara dengan Peternak Cacing Tanah (Bogor : Jum’ at, 8 Juli 1999).
4. Hamzah, Wawancara dengan Peternak Cacing Tanah (Bogor : Jum’ at, 8 Juli 1999).
5. Hud, Wawancara dengan Peternak Cacing Tanah (Bogor : Jum’ at, 8 Juli 1999).
6. Rudi, Wawancara dengan Peternak Cacing Tanah ( Bandung : Jum’ at, 2 Juli 1999).
7. Sayuti, Fahri, Pedoman Praktis Budidaya Cacing Tanah (Bandung : Pusat Latihan Dan Pengembangan, 1999).
8. Syaeful, Wawancara dengan Peternak Cacing Tanah (Bogor : Jum’ at, 8 Juli 1999).
9. Waluyo,Neno, Wawancara dengan Mahasiswa Peternak Cacing Tanah (Bogor : Kamis, 24 Juni l999).
12. KONTAK HUBUNGAN
1. Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829
2. Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8, Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952, Situs Web: http://www.ristek.go.id
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas

Selasa, 01 Februari 2011

larutan elektrolit

LARUTAN ELEKTROLIT KUAT, ELEKTROLIT LEMAH DAN NON ELEKTROLIT
TUGAS KIMIA





Disusun oleh :
AHMAD JAZULI
10 09 1 0002
PETERNAKAN







FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MAJALENGKA
2010 - 2011

Larutan elektrolit kuat :
larutan yang dapat terionisasi dengan sempurna sehingga akan meghantarkan daya hantar listrik yang kuat
Asam kuat :
HCl (aq) → H+ (aq) + Cl- (aq)
H2SO4 (aq) → 2H+ (aq) + SO-4 (aq)
HNO3 (aq) → H+ (aq) + NO-3 (aq)
HClO4 (aq) → H+ (aq) + ClO-4 (aq)

Basa kuat :
NaOH (aq) → Na+ (aq) + OH- (aq)
KOH (aq) → K+ (aq) + OH- (aq)
Ca(OH)2(aq) → Ca2+ (aq) + 2OH- (aq)

Garam Kuat:
NaCl (aq) → Na+ (aq) + Cl- (aq)
K2SO4 (aq) → 2K+ (aq) + SO2+4 (aq)
CaCl2 (aq) → Cl2+ (aq) + 2Cl- (aq)
Al2SO4 (aq) → 2Al+ (aq) + SO2+4 (aq)



Larutan elektrolit lemah :
larutan yang tidak dapat terionisasi dengan sempurna sehingga akan meghantarkan daya hantar listrik yang lemah.
Asam lemah
CH3COOH (aq) → H+ (aq) + CH3COOH-(aq)
H2SO4 (aq) → 2H+ (aq) + SO2-4 (aq)
H3PO4 (aq) → 3H+ (aq) + PO3+4 (aq)
HF (aq) → H+ (aq) + F- (aq)
HCOOH (aq) → H+ (aq) + COOH- (aq)
HCN (aq) → H+ (aq) + CN- (aq)
H2CO3 (aq) → 2H+ (aq) + CO2+3 (aq)
H2S (aq) → 2H+ (aq) + S2-

Basa lemah
NO4OH(aq) → NH+4 (aq) + OH- (aq)
Ni(OH)2 (aq) → Ni2+ (aq) + 2OH- (aq)
Garam lemah
AgCl (aq) → Ag+ (aq) + Cl (aq)
CaCRO4(aq) → Ca+ (aq) + CrO-4 (aq)
PbI2 (aq) → Pb2+ (aq) + 2I- (aq)

Uji kepahaman 4.2


1. Jelaskan perbedaan antara ionisasi senyawa ionic dan ionisasi senyawa kovalen polar?
2. Jelaskan mengapa antara larutan elektrolit kuat dan elektrolit lemah memiliki daya hantar arus listrik yang berbeda?
3. Kemukaan beberapa perbedaan antara elektrolit kuat dan elektrolit lemah ?.
4. Jelaskan apa yang dimaksud asas like dissolved like ?.
5. Perhatikan beberapa jenis larutan di bawah ini.
a. H2SO4 b. C2H5OH c. CO(NH2)2
d. Mg(NO3)2 e. CH3COOH f. Hg2(PO4)2
g. C6H12O6 h. (NH4)2CO3 i. KCl


a. Tentukan mana yang merupakan elektrolit kuat, elektrolit lemah, dan non elektrolit ?.
b. Tuliskan masing – masing reaksi ionisasinya?.
c. Tentukan mana yang merupakan senyawa ionik dan mana yang senyawa kovalen






Pembahasan :
1. Senyawa ionic adalah senyawa yang tersusun atas ion-ion yang bermuatan. Dalam keadaan padat, senyawa ionic tidak dapat menghantarkan arus listrikkarena ion-ionnya tidak bebas bergerak. Namun dalam bentuk lelehan atau larutan, ion-ionnya dapat menghantarkan arus listrik. Sedangkan senyawa kovalen polar adalah senyawa yang terurai menjadi ion-ion yang bergerak bebas dalam larutan sehingga larutan dari senyawa kovalen polar dapat menghantarkan arus listrik.

2. Karena dalam elektrolit kuat mengalami proses ionisasi secara sempurna sehingga ion yang terdapat dalam larutan akan semakin banyak dan mengakibatkan nyala lampu terang sedangkan elektrolit lemah proses ionisasinya tidak sempurna

3.
Elektrolit kuat Elektrolit lemah
Dalam air terionisasi sempurna ( seluruhnya) Dalam air terionisasi sebagian ( tidak seluruhnya)
Memiliki daya hantar arus listrik kuat Memiliki daya hantar arus listrik lemah
Memiliki harga derajat ionisasi = 1 Memiliki harga derajat ionisasi 0 < x < 1

4. Asas like dissolves like yaitu partikel sejenis melarutkan partikel sejenis, artinya pelarut yang polar akan lebih mudah melarutkan yang polar, sedangkan pelarut yang nonpolar akan lebih mudah melarutkan yang nonpolar juga.






5.
a.
Elektrolit kuat Elektrolit lemah
H2SO4 CH3COOH
KCl




b.






c. J
Senyawa ionik Senyawa kovalen







Uji kepahaman 4.3
1. Jelaskan pengertian reaksi redoks menurut tiga konsep perkembangannya dan berikan masing – masing contoh reaksinya !
2. Sebutkan kategori suatu reaksi dikelompokkan sebagai reaksi redoks!
3. Berikan contoh – contoh reaksi redoks dalam kehidupan sehari-hari?.
4. Tuliskan mengapa proses pengaratan logam dikategorikan sebagai reaksi redoks?.
5. Larutan analis mendetail tentang proses metabolisme dalam tubuh kita. Apakah mengandung reaksi redoks ?. jelaskan!.
Pembahasan
1.
a. konsep reaksi redoks berdasarkan penggabungan dan pelepasan oksigen
oksidasi = reaksi penggabungan oksigen
contoh : perkaratan besi ( Fe )
4Fe (s) + 3O2 (g)→ 2Fe2O3(s)
reduksi = reaksi pelepasan atau pengurangan oksigen
contoh : reduksi bijih besi oleh CO
Fe2O3 (s) + 3CO(g) → 2Fe(s) + 3CO2 (g)
b. konsep reaksi redoks berdasarkan pelepasan dan pengikatan electron
oksidasi = teaksi pelepasan electron
contoh : Al →Al3+ + 3e
reduksi = reaksi pengikatan electron
contoh : Cl2 +2e → 2Cl-
c. konsep reaksi redoks berdasarkan perubahan bilangan oksidasi
oksidasi = reaksi dengan pengikatan bilangan oksidasi
reduksi = reaksi dengan penurunan bilangan oksidasi
2. jika reaksi tersebut mengalami pengikatan atau pelepasan oksigen dan electron juga mengalami penambahan atau pengurangan bilangan oksidasi
3. perkaratan besi, pada baterai, pada reaksi pembakaran, peleburan bijih logam, penyepuhan emas, pembuatan balon karbit, pengolahan air kotor.
4. Karena dalam pengkaratan besi terjadi reaksi oksidasi yaitu proses pengikatan oksigen oleh besi (Fe)
5.

international jurnal of thermodinamika

JURNAL INTERNASIONAL
THERMODINAMIKA
TUGAS KIMIA








Disusun oleh :
AHMAD JAZULI
10 09 1 0002
PETERNAKAN










FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MAJALENGKA
2010 - 2011

1. JURNAL INTERNASIONAL

*Corresponding Author Vol. 13 (No. 4) / 119
International Journal of Thermodynamics Vol. 13 (No. 4), pp. 119-125, 2010
ISSN 1301-9724 www.icatweb.org/ijot
A Thermodynamic Model for Argon Plasma Kernel Formation
Kian Eisazadeh-Far1, Farzan Parsinejad2, Hameed Metghalchi1*
James C. Keck3
1Northeastern University, Mechanical and Industrial engineering Department, Boston, MA 02115
2Chevron Oronite Company LLC, Richmond, CA 94801
3Massachusetts Institute of Technology, Cambridge, MA 02139
metghalchi@coe.neu.edu

Abstract
Plasma kernel formation of argon is studied experimentally and theoretically. The experiments have beenperformed in a constant volume cylindrical vessel located in a shadowgraph system. The experiments have beendone at constant pressure. The energy of plasma is supplied by an ignition system using two electrodes located in the vessel. The experiments have been done with two different spark energies to study the effect of input energy on kernel growth and its properties. A thermodynamic model employing mass and energy balances was developed to predict the experimental data. The agreement between the experiments and model prediction is very good. The effect of various parameters such as initial temperature, initial radius of the kernel, and the radiation loss have been investigated and it has been concluded that the initial condition is very important on the formation and expansion of the kernel.
Keywords: Argon plasma; kernel formation; thermodynamic model; ionization.












1. Introduction
Since plasma kernel formation is the beginning of flamepropagation in many systems, understanding this process isvery important. In plasma kernel formation of a noncombustiblegas by an external energy source like a spark,there are two important processes: The first part which is very short (microseconds) is the formation of a spark channel between two electrodes. The second part which is longer (milliseconds) is the conversion of electrical energy to thermal energy and consequently ionization and plasma kernel expansion. In the case of the existence of a combustible gas, the third stage will be evolution of the plasma kernel to a self sustained flame. There are numerous theoretical and experimental studies on the first and third stages (Bradley et al., 2004; Kravchik & Sher, 1994; Lee et al. ,2000; Maly, 1981; Mantel, 1992; Pischinger & Heywood, 1991; Sher & Keck, 1986; Sher et al., 1992; Yossefi et al., 1993; Ziegler et al, 1985). Maly and Vogel (1979) in a theoretical and experimental study determined that the most important part of spark discharge is the breakdown process. They mentioned that the other processes including arc and glow discharge are less important because their electrical energy is dissipated into the electrodes. Sher et al (1992) did a fundamental study on spark formation in air and proposed a model to calculate the spark kernel temperature after breakdown. They concluded that the initial spark kernel is a very high temperature region, but the temperature drops rapidly due to energy dissipation. They stated that beyond a specific limit of temperature, the energy of spark affects the flame kernel size, and not the temperature. They concluded that the spark kernel is grown in two steps. The first, shorter stage consists of a pressure wave emission. This is followed by a longer period, in which constant pressure ionization starts. Chen and Ju (2007) studied the evolution of the ignition kernel to a flame ball and they concluded that radiation plays a very important role in transition of initial flame kernel to the actual self-sustained flame. Most of the cited studies focus on the first and third stage of ignition and a semi-quantitative understanding of these stages has been achieved. In this paper we will focus on the second part of ignition which is the formation and expansion of the plasma kernel by adding electrical energy. We will study the plasma kernel of an inert gas, argon, to avoid the complexities of a reacting gas mixture and multicomponent species.










2. Experimental System
Figure 1 shows the sketch of the experimental system. The experimental system includes a cylindrical vessel. It is fitted with two extended spark plug electrodes which provide a central point ignition source for the chamber. The thickness of electrode (de) is 0.381 mm. A shadowgraph system is used with the cylindrical system to take images of kernel growth. A CMOS camera with the capability of taking pictures up to 40,000 frames per second has been
used in these experiments. Additional information about the experimental facility can be found in previous publications (Eisazadeh-Far, Moghaddas, Al-Mulki, & Metghalchi, 2010; Eisazadeh-Far, Parsinejad, & Metghalchi, 2010; Eisazadeh-Far, Parsinejad, Metghalchi, & Keck, 2010; Parsinejad, Arcari, & Metghalchi, 2006; Parsinejad, Keck, & Metghalchi, 2007; Rahim, Eisazadeh-Far, Parsinejad, Andrews, & Metghalchi, 2008).

120 / Vol. 13 (No. 4) Int. Centre for Applied Thermodynamics (ICAT)
Figure 1: The experimental set up of the system.
Ignition system: An important detail of the ignition system is the 5 select-switch, which allows the energy stored in the capacitors to be varied. The capacitors storing this energy discharge to a transformer and therefore to spark plugs. Voltage and current across the spark plug gap during the electrical discharge have been measured to calculate the discharge energy. This has been achieved by setting up a detection circuit employing two resistors. The resistors are placed in parallel to the spark plugs to allow only a very small but measurable portion of the current to flow through the detection circuit. These small portions were then sampled by an oscilloscope. In this system the voltage difference across one of the resistors in the detection circuit
is 1/201 of the voltage across the spark plugs. Another similar method was used to calculate the current across the spark plug, which in this case is exactly equal to the amperage flowing through the parallel circuit.













3. Experimental Results
3.1. Discharge energy (DE): Using a voltage divider
circuit, the voltage and current across the gap were measured. Figure 2 shows the experimentally determined voltages and currents across the spark plug gap for each voltage setting on the ignition system in argon. The spike, approximately at 5-10 microseconds in duration, shows the breakdown stage which is the beginning of spark discharge. In this stage the gap is bridged by the avalanche of electrons flowing from cathode to anode. Figure 3 shows the discharged power calculated by the product of the measured values of current (I) and voltage (V) for two different stored energies in the ignition system. Discharged energy, DE, can be calculated as DE=∫VI dt. It
should be noted that discharged energy is different from the electrical energy converted to the thermal energy in the gas. A portion of the discharged energy is dissipated by conduction into the electrodes.

3.2. Image capturing: Figures 4 shows the snapshot of an argon plasma kernel. It can be seen that the boundary layer surrounding the plasma kernel is very thin. Figure 5 shows the radii of a kernel at two different spark energies. It can be seen that spark energy has a remarkable effect on the size of the kernel.
Time (ms)
Voltage (V)
0 0.5 1 1.5 2 2.5
0
100
200
300
400
500
600
700
800
900
1000
1100
1200
DE = 46 mJ
DE = 26 mJ
Breakdown mode: 0.25 mJ
Time (ms)
current (A)
0 0.5 1 1.5 2 2.5
0
0.05
0.1
0.15
0.2
0.25
0.3
0.35
0.4
0.45
0.5
DE = 46 mJ
DE = 26 mJ
Figure 2: Voltage and current versus time for low and high discharge energies.
Int. J. of Thermodynamics (IJoT) Vol. 13 (No. 4) / 121
Time (ms) Power (W)
0 1 2 3
0
10
20
30
40
50
DE = 26 mJ
DE = 46 mJ
Figure 3: Spark discharge power of argon at low and high discharge energies. Figure 4: Argon plasma kernel, P = 1 atm, DE = 46 mJ.
Time (ms) r (mm)
0 0.5 1 1.5
0
0.5
1
1.5
argon, DE = 46 mJ
argon, DE = 26 mJ
Figure 5: Argon radii at two different spark discharge energies (DE = 26 and 46 mJ).

4. Thermodynamic Model
In this section the thermodynamic model for predicting the growth of argon plasma kernel will be described.Figure 6 shows the schematic diagram of the control mass and energy transformation across the boundary.
Figure 6: the sketch of the model.
The major assumptions are as following:
1- It is assumed that the plasma kernel is spherical.
2- All calculations start after the breakdown stage. It is assumed that the shock wave is emitted and pressure is constant.
3- Since the relaxation time scale of different energy modes (translational, rotational, vibrational, electronic) are too small (O~10-9 s), all species are in local thermodynamic equilibrium (Maly, 1981; Maly & Vogel, 1979; Sher et al, 1992; Sher & Keck, 1986).
4- There is no mass transport processes involved in the model. It is assumed that the plasma kernel is a constant-mass system and expands in a constant pressure process.
5- Energy losses are due to radiation, cathode-anode fall dissipations, and conduction through the thermal boundary layer to the electrodes. The governing equations are, equation of state, mass conservation, and energy balance. The equation of state is given as
pV =nRT (1)
where p is the pressure, V is the volume of the kernel, n is number of moles, R is the universal gas constant, and T is the temperature. Total number of moles is determined by:
Σ=
=
z
i
n ni
1
(2)
where z is the number of species. The number of elemental atom number is then given by
0
z
EAr Arε
ε =
= Σ ε = 0, 1, 2, 3,…z (3)
In this equation, ε is the charge of ions.




122 / Vol. 13 (No. 4) Int. Centre for Applied Thermodynamics (ICAT)
The equation for energy balance is given by:
ncv (T − T0 ) = DE − p(V − V0 ) −Qrad −Qcond (4)
Eq. (4) can be rewritten as:
0 p ( )
rad cond
c
p V V DE Q Q
R
− = − − (5)
where T is the temperature, cv and cp are the heat capacities, 0 V is the initial volume of the kernel, Qrad is the radiation energy loss, and Qcond is the conduction energy loss to the electrodes through the thermal boundary layer. It should be noted that for each step the increment of temperature is chosen to be too small throughout the solution. This is the reason for integration of equations (4) and (5) versus temperature and appearance of constant specific heat capacities. It means that at each step it is assumed that the specific heat capacity is constant. In Eqn. (5):
0
0
( ) ( ) b t t
b fall b colbca
DE IVdt IV dt IV dt
IVdt Q SE
= + +
= + +
∫ ∫ ∫

(6)
In this equation, t is time, ∫b IVdt
0
is the breakdown energy, ca Q is the cathode-anode fall dissipation by conduction into the electrodes, and SE is the net spark energy converted to thermal energy in the plasma. Conduction to electrodes in the thermal boundary layer is:
0 2 T e ( )
cond
Q k A T T dt
αt

= ∫ (7)
where kT is the thermal conductivity of the gas; Ae is the contact area of electrodes with the gas, T0 is the temperature of the electrode, and α is the thermal diffusivity of argon. Experimental data of Wilbers, Beulens, & Schram (2002), which have been collected at high temperatures under optically thin conditions, have been used to model radiation losses.

4.1. Thermodynamic properties: The thermodynamic properties of argon have been calculated by statistical thermodynamic methods. These parameters include cp and the enthalpy of the mixture. For argon the species are Ar, Ar+, Ar2+, Ar3+, Ar4+, Ar5+, Ar6+and e (electron). Additional information can be found in (Eisazadeh-Far, Metghalchi, & Keck, 2010). In the theoretical model, the values of specific heat are needed at very high temperatures of 300 – 100,000 K. Figure 7 shows the heat capacity of argon in this temperature range. Figure 8 shows the normalized number of species of argon. The results of Eq. (2) have been normalized by the sum of the elemental atom numbers defined in Eq. (3). It can be seen that number of particles increase as the temperature of the gas increases.
Temperature (K)
cp (kJ/kg.K)
20000 40000 60000 80000 100000
0
5
10
15
20
25
30
Figure 7: Specific heat capacity of argon at high temperatures.
T (K)
Normalized particle numbers
25000 50000 75000 100000
0
3
6
9
12
15
Figure 8: Particle numbers of argon normalized by elemental atom numbers.


5. Results and Discussion
Eqs. (1)–(7) have been solved to determine the radii and temperature of plasma kernel for different initial temperatures and volumes of the kernel and input electrical energies. The values of initial radius and initial temperature depend on the discharged energy, pressure, gas type and energy losses during the breakdown. The effect of initial parameters on the size and temperature of the kernel is investigated in the following Section.
5.1. Initial radius: Figures 9 and 10 demonstrate the effect of the initial radius of the plasma kernel on growth and temperature of the plasma kernel. It can be seen that the size of the plasma kernel is not dependent on the initial radius but the temperature of the kernel is very sensitive to the initial radius.
5.2. Initial temperature: Figures 11 and 12 show the effect of initial temperature on plasma kernel growth and its temperature. It is shown that initial temperature does not have a major effect on the size of the kernel but it can change the temperature of the hot plasma strikingly. Initial temperature depends on breakdown energy and breakdown
Int. J. of Thermodynamics (IJoT) Vol. 13 (No. 4) / 123
duration. The range of initial temperature for plasma is 5,000-7,000 K.
5.3. Best fit to the model: Figure 13 shows the results of the calculations and the comparison with the experimental data. There are two curves in each figure which are the calculations with and without radiation. As can be seen, radiation is a major source of energy loss. The radiation becomes important especially when the temperature is high. It can also be concluded that the decrease of argon plasma radii is due to radiation energy losses. At higher discharged energies not only the temperature of the kernel but also the volume of kernel increases and it causes higher radiation energy losses.
Table 1 shows the summary of fractional energy terms. It can be seen that a large part of energy is dissipated by cathode-anode fall conduction dissipations. Clearly, the amount of radiation loss depends on the value of discharged energy. This percentage is strongly a function of the current and the temperature of the arc (Hermann & Schade, 1970).
Table 2 shows that approximately 3-5 % of discharged energy is converted to thermal energy. The results presented in Table 1 are in good agreement with experimental measurements of Teets & Sell (1988).
Time (ms)
r (mm)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3
0
0.5
1
1.5
2
2.5
ri = 0.32 mm
ri = 0.34 mm
ri = 0.38 mm
Figure 9: The effect of initial radius on kernel size of
argon, Ti = 7000 K, DE = 46 mJ, Qrad = 0.
Time (ms)
Temperature (K)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3
0
10000
20000
30000
40000
50000
60000
70000
80000
90000
100000
110000
ri = 0.32 mm
ri = 0.34 mm
ri = 0.38 mm
Figure 10: The effect of initial radius on kernel temperature
of argon, Ti = 7000 K, DE = 46 mJ, Qrad = 0.
Time (ms)
r (mm)
0 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3
0.5
1
1.5
2
2.5
Ti = 5000 K
Ti = 6000 K
Ti = 7000 K
Figure 11: The effect of initial temperature on argon kernel
growth, Ti = 7000 K, ri = 0.34 mm, DE = 46 mJ, Qrad = 0.
Time (ms)
Temperature (K)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3
0
20000
40000
60000
80000
100000
120000
Ti = 5000 K
Ti = 6000 K
Ti = 7000 K
Figure 12: The effect of initial temperature on argon kernel
temperature, Ti = 7000 K, ri = 0.34 mm, DE = 46 mJ, Qrad
= 0.

124 / Vol. 13 (No. 4) Int. Centre for Applied Thermodynamics (ICAT)
Time (ms)
r (mm)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
with radiation
zero radiation
Experiment
DE = 26 mJ
Ti = 5000 K
ri = 0.25 mm
Qrad = 6% ofDE
de = 0.381 mm
(a)
Time (ms)
r (mm)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
with radiation
zero radiation
Experiment
DE = 46 mJ
Ti = 7000 K
ri = 0.34 mm
Qrad = 27% of DE
de = 0.381 mm
(b) Figure 13: Argon plasma radii and comparison with experiments: a) DE = 26 mJ; b) DE = 46 mJ.


















6. Conclusions
Formation of an argon plasma kernel has been studied experimentally and theoretically. The experiments were performed at constant pressure in a shadowgraph system. They have been performed with two different discharged energies to investigate the effect of spark energy. Radii of the argon plasma kernel were measured optically. A thermodynamic model was developed to predict the expansion of the kernel under initial conditions of experiments. The major conclusions are: 1- It can be assumed that the plasma kernel expands in a constant pressure and constant mass condition.
2- Total number of moles increases as the temperature of the gas increases and it is the main source of kernel expansion at constant pressure and constant mass condition.
3- Increase of heat capacity of the plasma gases at high temperatures plays a very important role on the temperature and growth mechanism of the kernel.
4- Initial volume and initial temperature of the kernel have a great effect on the temperature of the kernel. However, they do not have a major effect on the size of the kernel.
5- Cathode-anode falls are the major source of energy losses. Radiation is another source of energy losses which becomes more important at higher discharge energies due to higher kernel temperatures. A small portion of discharged energy is converted to thermal energy which depends on the discharged energy amount. This portion is less than 10%.
6- This model can be extended to combustible mixtures toinvestigate the spark ignition and flame formation mechanism of engines and other combustors.
Acknowledgment
This work has been partially supported by Office of Naval Research (ONR), grant number N00010-09-1-0479, under technical monitoring of Dr. Gabriel Roy.















References
Bradley, D., Sheppard, C. G. W., Suardjaja, I. M., Woolley, R. 2004. Fundamentals of high-energy spark ignition with lasers, Combustion and Flame, 138(1-2),55-77.
Chen, Z., and Ju., Y. 2007. Theoretical analysis of the evolution from ignition kernel to flame ball and planar flame. Combustion Theory and Modeling, 11(3), 427 – 453.
Eisazadeh-Far, K., Metghalchi, H., and Keck, J. C. 2010. Thermodynamic Properties of Ionized Gases at High Temperatures. Submitted to Journal of Energy Resources and Technology.
Eisazadeh-Far, K., Moghaddas, A., Al-Mulki, J., Metghalchi, H. 2010. Laminar Burning Speeds of Ethanol/Air/Diluent Mixtures. Proc. Combust. Inst. (2010), doi:10.1016/j.proci.2010.05.105.
Eisazadeh-Far, K., Parsinejad, F., and Metghalchi, H. 2010. Flame structure and laminar burning speeds of JP-8/air premixed mixtures at high temperatures and pressures. Fuel, 89, 1041–1049.
Eisazadeh-Far, K., Parsinejad, F., Metghalchi, H., Keck. J. C. 2010. On Flame Kernel Formation and Propagation in Premixed Gases, Combustion and Flame, 157, 2211–2221. Table 1: Summary of fractional energy terms Argon (DE = 26 mJ) Argon (DE = 46 mJ) Cathode-anode fall losses 88.80% 68.20% Thermal boundary layer conduction 0.20% 0.30% Radiation losses 6% 27% Converted to thermal energy (present study) 5% 3.50% Converted to thermal energy (Teets and Sell (1988)) 7%
Int. J. of Thermodynamics (IJoT) Vol. 13 (No. 4) / 125
Hermann, W., Schade, E. 1970. Transportfunktionen von Stickstoff bis 26000 K. A. Physik. 233, 333-350.
Kravchik, T., Sher, E. 1994. Numerical modeling of spark ignition and flame initiation in a quiescent methane-air mixture. Combustion and Flame, 99(3-4), 635-643.
Lee, Y. G., Grimes, D. A., Boehler, J. T., Sparrow, J., Flavin, C. 2000. A Study of the Effects of Spark Plug Electrode Design on 4-Cycle Spark-Ignition Engine Performance, SAE Paper 2000-01-1210.
Maly, R., Vogel, M. 1979. Initiation and propagation of flame fronts in lean CH4-air mixtures by the three modes of the ignition spark. Symposium (International) on Combustion. 17(1), 821-831.
Maly, R., 1981. Ignition model for spark discharges and the early phase of flame front growth. Symposium (International) on Combustion. 18(1), 1747-1754. Mantel, T. SAE Paper 920587.
Parsinejad, F., Arcari, C., Metghalchi, H. 2006. Flame Structure and Burning Speed of JP-10 Air Mixtures. Combustion Science and Technology. 178, 975-1000. Parsinejad, F., Keck, J. C., and Metghalchi, H. 2007. On the location of flame edge in Shadowgraph pictures of spherical flames: a theoretical and experimental study. Experiments in Fluids. 43(6), 887-894.
Pischinger, S., Heywood, J. B. 1991. A model for flame kernel development in a spark ignition engine. Symposium (International) on Combustion. 23(1), 1033-1040.
Rahim, F., Eisazadeh-Far, K., Parsinejad, F., Andrews, R. J., Metghalchi, H. 2008. A Thermodynamic Model toCalculate Burning Speed of Methane-Air- Diluent Mixtures, International Journal of Thermodynamics. 11, 151-161. Sher, E., Ben-Ya'Ish, J., Kravchik, T. 1992. On the birth of spark channels, Combustion and Flame, 89(2), 214-220.
Sher, E., Keck, J. C. 1986. Spark ignition of combustible gas mixtures. Combustion and Flame. 66(1), 17-25.
Teets, R. E., Sell, J. A. 1988. Calorimetry of Ignition Sparks, SAE Paper 880204.
Wilbers, A. T. M., Beulens, J. J., Schram, D. C. 2002. Radiative energy loss in a two-temperature argon plasma, Journal of Quantitative Spectroscopy and Radiative Transfer, 46(5), 385-392.
Yossefi, D., Belmont, R., Thurley, R., Thomas, J. C.,
Hacohen, J. 1993. A Coupled Experimental-Theoretical
Model of Flame Kernel Development in a Spark Ignition
Engine. SAE paper 932716.
Ziegler, G. F. W., Wagner E. P., Maly, R. 1985. Ignition of lean methane-air mixtures by high pressure glow and ARC discharges, Symposium (International) on Combustion, 20(1), 1817-1824.
















2. RESUME
Maly dan Vogel (1979) dalam studi teoritis dan eksperimental menetapkan bahwa bagian paling penting dari percikan debit adalah proses kerusakan. Mereka menyebutkan bahwa selain proses itu termasuk debit busur dan cahaya kurang penting karena energi listrik mereka hilang ke elektroda. Sher et al (1992) melakukan penelitian mendasar pada percikan formasi di udara dan mengusulkan model untuk menghitung percikan suhu kernel setelah rusak. dia menyimpulkan bahwa percikan awal kernel suhu wilayah yang sangat tinggi, tapi suhu turun dengan cepat karena energi disipasi. Mereka menyatakan bahwa di luar batas tertentu suhu, energi spark mempengaruhi kernel api ukuran, dan tidak suhu. Mereka menyimpulkan bahwa percikan kernel ditanam dalam dua langkah. Yang, pertama lebih pendek terdiri dari emisi gelombang tekanan. Hal ini diikuti oleh waktu yang lebih lama, di mana ionisasi tekanan konstan dimulai.
Chen dan Ju (2007) mempelajari evolusi mesin kernel untuk bola api dan mereka menyimpulkan bahwa radiasi memainkan peran yang sangat penting dalam transisi api awal kernel ke api berkelanjutan yang sebenarnya. Sebagian besar penelitian yang dikutip fokus pada pertama dan ketiga pengapian dan tahap pemahaman semi-kuantitatif tahap ini telah tercapai. Dalam tulisan ini kita akan fokus pada bagian kedua dari pengapian yang pembentukan dan perluasan kernel plasma dengan menambahkan energi listrik. Kami akan mempelajari inti plasma dari argon, gas inert, untuk menghindari kompleksitas dari campuran gas yang bereaksi dan multikomponen spesies.
Sistem pengapian: Sebuah detail penting dari sistem pengapian adalah 5 pilih-switch, yang memungkinkan energi yang tersimpan dalam kapasitor yang akan divariasikan. Kapasitor menyimpan energi ini dibuang ke transformator dan digunakan untuk busi. Tegangan dan arus di celah busi selama debit listrik telah diukur untuk menghitung pembuangan energi. Hal ini telah dicapai dengan mendirikan rangkaian deteksi mempekerjakan dua resistor. Resistor adalah ditempatkan di sejajar dengan busi untuk hanya mengijinkan yang sangat sebagian kecil tetapi dapat diukur dari arus mengalir melalui rangkaian deteksi. Porsi kecil ini kemudian sampel oleh osiloskop. Dalam sistem ini tegangan perbedaan di salah satu resistor dalam rangkaian deteksi adalah 1 / 201 dari tegangan di busi. metode Lain yang sama digunakan untuk menghitung arus di busi, yang dalam hal ini persis sama dengan ampere mengalir melalui rangkaian paralel.
Pada bagian ini model termodinamika untuk memprediksi pertumbuhan kernel argon plasma akan dijelaskan.
Asumsi utama adalah sebagai berikut:
1 - Hal ini diasumsikan bahwa kernel plasma bola.
2 - Semua perhitungan dimulai setelah tahap kerusakan. Hal ini diasumsikan bahwa gelombang kejut yang dipancarkan dan tekanan konstan.
3 - Sejak skala relaksasi saat energi yang berbeda mode (translasi, rotasi, getaran, elektronik) terlalu kecil (O ~ 10-9 s), semua spesies yang di lokal termodinamika ekuilibrium (Maly, 1981; Maly & Vogel, 1979; Sher et al, 1992; Sher & Keck, 1986).
4 - Tidak ada transportasi massal proses yang terlibat dalam model. Diasumsikan bahwa kernel plasma adalah sistem massa konstan dan proses tekanan berkembang secara konstan.
5 - kerugian Energi akibat radiasi, jatuh anoda katoda dissipations, dan konduksi termal melalui
batas layer ke elektroda. Persamaan pengatur tersebut, persamaan keadaan, massa konservasi, dan keseimbangan energi. Persamaananya adalah pV = nRT (1) di mana p adalah tekanan, V adalah volume kernel, n jumlah mol, R adalah konstanta gas universal, dan T adalah suhu.
Sifat argon telah dihitung dengan statistik metode termodinamika. Parameter ini meliputi cp dan
entalpi campuran. Untuk argon spesies adalah Ar, Ar +, Ar2 +, Ar3 +, Ar4 +, Ar5 +, Ar6 + dan e (elektron). Tambahan informasi dapat ditemukan dalam (Eisazadeh-Jauh, Metghalchi, & Keck, 2010). Dalam model teoritis, nilai-nilai tertentu panas yang sangat dibutuhkan di suhu tinggi 300 - 100.000 K.
Seperti dapat dilihat, radiasi merupakan sumber utama kehilangan energi. radiasi menjadi penting terutama ketika suhu tinggi. Hal ini juga dapat disimpulkan bahwa penurunan plasma argon jari-jari adalah karena kehilangan energi radiasi. Pada energi tinggi habis energi tidak hanya di pengaruhi oleh suhu kernel tetapi juga volume meningkat kernel dan hal itu menyebabkan kerugian energi radiasi yang lebih tinggi. jumlah kerugian radiasi tergantung pada nilai dibuang energi. Persentase ini sangat fungsi dari arus dan suhu busur (Hermann & Schade, 1970).











3. KESIMPULAN
Dalam pembentukan kernel plasma dari noncombustible gas dengan sumber energi eksternal seperti percikan, ada dua proses penting: Bagian pertama yang sangat singkat (mikrodetik) adalah pembentukan percikan saluran antara dua elektroda. Bagian kedua (milidetik) adalah konversi energi listrik untuk ionisasi energi panas dan akibatnya plasma kernel ekspansi. Dalam kasus adanya gas yang mudah terbakar, tahap ketiga akan evolusi plasma kernel untuk api berkelanjutan sendiri.
Penelitian tentang Pembentukan kernel argon plasma telah dipelajari eksperimen dan teoritis. Percobaan dilakukan pada tekanan konstan dalam suatu sistem shadowgraph.. Jari-jari dari kernel argon plasma diukur optik. Model termodinamika dikembangkan untuk memprediksi perluasan kernel dalam kondisi awal percobaan. Kesimpulan utama adalah:
1 - Hal ini dapat diasumsikan bahwa kernel plasma berkembang di tekanan konstan dan kondisi massa konstan.
2 - Jumlah mol meningkat sebagai peningkat suhu gas dan itu adalah sumber utama kernel ekspansi pada tekanan konstan dan kondisi massa konstan.
3 - Meningkatkan kapasitas panas dari gas plasma pada tingkat tinggi suhu memainkan peran yang sangat penting pada suhu dan pertumbuhan mekanisme kernel.
4 - volume awal dan suhu awal kernel telah menimbulkan efek yang besar pada suhu kernel. Namun, tidak memiliki pengaruh besar pada ukuran kernel.
5 - katoda-anoda jatuh adalah sumber utama energi kerugian. Radiasi merupakan sumber kehilangan energi yang menjadi lebih penting pada debit tinggi karena suhu kernel yang lebih tinggi energi. porsi energi dibuang dikonversi menjadi panas energi yang tergantung pada energi habis jumlah. Bagian ini kurang dari 10%.
6 - Model ini dapat diperluas untuk campuran mudah terbakar ke menyelidiki pembentukan pengapian dan percikan api mekanisme mesin dan pembakar lainnya.
7- energi dibuang berbeda dari energi listrik diubah menjadi energi panas dalam gas. Sebagian dari energi dibuang didisipasikan oleh konduksi ke elektroda.

Senin, 10 Januari 2011

jlimet

kali ini saya berada dalam kehidupan yang belum saya mengerti. kebosanan yang kualami belum juga dapat d obrak abrik oleh semangat yang membara. kuingin kehidupan yang benar-benar membuatku hidup. mungkin salah satu cara menghilangkan kebosanan ini dengan kesibukan yang menjlimet, atau mungkin dengan cinta?. pernah ku berniat mengakhiri masa jombloku, tapi karena terlalu lama menikmati masa jomblo, saya jadi kehilangan rasa pede mendekati perempuan. doakan saya kawan, agar bisa mengejar cinta itu,.